A Constant Stream

David Brainerd (1718-1747)

A Constant Stream

10 August 2015

“There was no more goodness in my praying than there would be in my paddling with my hands in the water… because (my prayers) were not performed from any love or regard to God… I never once prayed for the glory of God. I never once intended his honor and glory…” – David Brainerd

David Brainerd lahir di Haddam, Connecticut, Amerika Serikat pada tahun 1718. David adalah seorang misionaris yang Tuhan pakai untuk pergi memperkenalkan Kristus kepada suku-suku Indian di Amerika. Ayah David Brainerd bernama Hezekiah dan ibunya bernama Dorothy. Ada sembilan anak lain dalam keluarga Brainerd selain David. David adalah anak yang keenam.

Keluarga Brainerd adalah keluarga yang benar-benar memperhatikan bagaimana iman dan keagamaan dijalankan dalam kehidupan seharihari. Ayah David melatih anakanaknya untuk disiplin dalam banyak hal, seperti membaca Alkitab, membaca buku, berdoa, berpuasa, saling mengasihi, bangun pagi, tidak bermalas-malasan, mengutamakan hal-hal rohani daripada jasmani, dan banyak hal kedisiplinan lainnya. Maka pada akhirnya David menjadi anak yang sangat memperhatikan kerohaniannya dan senang melakukannya dengan baik. David tidak suka jika ada hal yang kurang atau bolong dari apa yang harusnya dikerjakan. David tidak suka menunda pekerjaannya.

Selain dari kerohanian yang sangat ketat, David juga mewarisi kelemahan tubuh dan sifat melankolis keluarga Brainerd. Dari begitu banyak anak keluarga Brainerd, kebanyakan umurnya pendek dan mati di masa muda mereka. David adalah salah satunya yang juga mati di usia muda. Kebanyakan dari keluarga Brainerd juga sangat melankolis, sangat serius, dan berlarut-larut jika memikirkan atau mengerjakan suatu hal. Inilah yang akhirnya juga menjadi penyebab dari kesulitan pertobatan David.

Meskipun David dididik dengan cara yang sedemikian ketat, tidak menjamin dia otomatis menjadi orang Kristen. David sendiri mengakui bahwa pada masa awal hidupnya dia tidak pernah menjadi Kristen sungguh-sungguh dan tidak pernah mengerti anugerah Tuhan. David terlalu terpaku kepada menjaga aktivitas-aktivitas disiplin rohaninya yang sempurna itu dan hal itu menjadi sumber kesenangan David satu-satunya. Hidup yang seperti demikian terus dijalaninya sampai dia beranjak ke usia remaja.

Pada saat David berumur 19 tahun, David memutuskan untuk pergi bercocok tanam di lahan yang dia dapatkan dari warisan orang tuanya. David melatih tubuhnya dan melakukan segala pekerjaan ladang yang diperlukan, tetapi semakin lama dia melakukannya, dia semakin menyadari bahwa ini bukanlah yang dia inginkan. David sebenarnya lebih ingin masuk universitas dan mempersiapkan dirinya untuk melayani jemaat sebagai pendeta pastoral. David berpikir bahwa dengan melakukan pelayanan, dia telah mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Pada saat mempersiapkan diri untuk memasuki universitas, David membaca Alkitab dua kali berturutturut. Di masa-masa itulah David mulai sadar bahwa ada kebenarankebenaran Alkitab yang tidak bisa Dia terima. Hal yang tidak bisa dia terima adalah mengenai hukumhukum Allah, keselamatan hanya melalui iman semata, dan tentang kedaulatan Tuhan.

David dibesarkan dalam keluarga yang sangat ketat keagamaannya dan ini menyebabkan David sangat kesal karena tidak bisa memenuhi seluruh hukum Allah dengan sempurna. Betapa pun kerasnya dia berusaha, semakin jauh rasanya dari kesempurnaan yang dituntut oleh hukum Allah dalam Alkitab. David juga tidak setuju dengan iman semata yang membawa kepada keselamatan. Dia bahkan kesal dengan kebenaran ini karena dia tidak paham apa itu iman dan tidak tahu bagaimana caranya bisa mendapatkannya. Tapi kebenaran yang paling menjengkelkan bagi David adalah mengenai kedaulatan Allah. Bagaimana bisa Tuhan berlaku kepada manusia semenamena, menghukum yang mau Dia hukum, menyelamatkan yang mau Dia selamatkan? Jika demikian, di mana peran manusia? Untuk apa manusia berjuang hidup saleh dalam dunia ini? David sangat tidak mengerti.

Setelah bergumul cukup lama, pada musim panas tahun 1739 David mulai mendapatkan titik terang. David diberikan pertobatan sejati oleh Tuhan dan mulai mengerti dan menerima kebenaran yang ditolaknya itu. David menyadari bahwa manusia tidak mungkin meraih keselamatan dengan usahanya sendiri dan segala kebaikan yang dilakukannya selama ini dilakukan dengan rasa “pantas” mendapatkan hadiah keselamatan daripada Tuhan. Segala hal yang dilakukannya selama ini adalah untuk dirinya sendiri dan tidak pernah untuk kemuliaan Tuhan. David akhirnya menjadi orang yang paling bergumul mengenai hal ini, yaitu menyatakan kemuliaan Tuhan melalui hidupnya.

Pada saat David berumur 21, dia mulai masuk ke Yale University. Di tempat ini David sungguh-sungguh bekerja keras. Bukan hanya soal akademik, tetapi juga melawan kelemahan tubuhnya. David pernah dipulangkan karena muntah darah di Yale dan studinya terhenti beberapa minggu. Meski demikian, David menjadi murid yang memiliki prestasi tertinggi di Yale. Hal yang mengagetkan mengenai masa studi David di Yale adalah dia dikeluarkan dari Yale setelah setahun di sana. Mengapa? Bukan karena nilainya, tetapi karena adanya perseteruan pihak mahasiswa dengan pihak universitas. Kejadian ini sangat memukul David. Tetapi pengeluarannya dari Yale ini justru menjadi langkah awal David menjawab panggilannya sebagai misionaris ke suku Indian Amerika. Pada saat itu berlaku hukum bahwa yang ingin melayani menjadi pendeta pastoral harus lulus dari Universitas Yale, Harvard, atau universitas Eropa lainnya.

Setelah keluar dari Yale, David mengambil waktu menumpang di rumah Jedediah Mills, hamba Allah yang sejati. Di sana dia banyak merenung sampai akhirnya muncul kerinduan di hatinya untuk membawa Injil kepada suku Indian.

Waktu pelayanan David kepada suku Indian tidaklah banyak. Pelayanannya hanya berlangsung 3-4 tahun saja sebelum meninggal dunia. Selama satu tahun David diutus dalam masa percobaan ke Kaunaumeek, lalu ditahbiskan dan melayani selama sisa hidupnya di Crossweeksung, Cranberry, dan Susquehanna. David akhirnya meninggal di usia 29 tahun, pada tanggal 9 Oktober 1747.

Pelayanan David begitu singkat dan mungkin membuat kita bertanya-tanya, “mengapa orang yang melayani begitu singkat ini sangat terkenal? Mengapa banyak misionaris setelahnya banyak sekali yang terinspirasi dan tergugah dengan hidup David? Apa spesialnya orang ini?” Jika kita melihat begitu saja secara singkat, kita pasti tidak akan menemukan jawabannya. Jawabannya akan terlihat ketika kita mengenal pergumulan David, apa yang dialaminya saat-saat sebelum dan sesudah melayani.

Pertama, David terus sakit secara konstan dalam hidupnya, tetapi dia tetap setia melayani. Pada bulan September 1746 David menuliskan, “Exercised with a violent cough and a considerable fever; had no appetite to any kind of food; and frequently brought up what I ate, as soon as it was down; and oftentimes had little rest in my bed, by reason of pains in my breast and back: was able, however, to ride over to my people, about two miles, every day, and take some care of those who were then at work upon a small house for me to reside in amongst the Indians.” Bayangkan, pada zaman itu belum ada kendaraan bermotor dan bepergian harus menggunakan kuda. Perjalanan bisa memakan beberapa hari dan harus bertahan hidup sendirian di alam liar untuk beberapa hari dengan keadaan David yang sakit-sakitan.

Kedua, David bergumul dengan rasa kesepian. David merupakan misionaris perintis pada saat itu. Belum ada yang Kristen sama sekali. Tidak ada orang lain baginya untuk menceritakan kesulitannya dan pergumulan spiritualnya. David mengatakan, “Most of the talk I hear is either Highland Scotch or Indian. I have no fellow Christian to whom I might unbosom myself and lay open my spiritual sorrows, and with whom I might take sweet counsel in conversation about heavenly things, and join in social prayer.”

Ketiga, David yang menjadi misionaris tidak mungkin membawa harta kekayaannya, sehingga sering kali harus hidup susah, sering kelaparan, menumpang di rumah penduduk, budaya yang tidak sama, dan kesulitan jasmaniah lainnya.

David Brainerd mengalami seluruh kesulitan itu. Mungkin jika kita yang ditempatkan menjadi David, tidak akan sanggup. Tetapi David melewati seluruh kesulitan itu dan tetap setia kepada panggilan Tuhan sampai mati. David tidak menyerah dan tidak mengasihani dirinya. Mengapa David bisa seperti itu? Apa yang membuatnya bisa melakukannya? Jawabannya adalah karena David melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan. Di hadapan matanya terlihat kemuliaan Tuhan bersinar ketika pekerjaan Tuhan dilakukan dan jiwa-jiwa kembali kepada Kristus. David telah menang terhadap pergumulannya.

Mari lihat kutipan di awal artikel ini, di sana David mengatakan bahwa dia dulunya tidak pernah melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Tuhan, hanya mencari keuntungan diri sendiri. Tetapi David tidak tinggal diam dengan keadaannya. David bertumbuh dan mengusahakan dirinya suka terhadap kemuliaan Tuhan. David menjadi orang yang kesukaan paling besarnya adalah melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan. Kesukaannya terhadap kemuliaan Tuhan inilah yang membuatnya tetap melayani walaupun sakit, tetap berjuang meski susah dan rugi.

Apakah yang menjadi pendorong hidup kita? Sudahkah kita mengusahakan diri kita lebih bersukacita terhadap kemuliaan Allah dibandingkan dengan keuntungan diri sendiri? Maukah kita memiliki pandangan yang seperti David Brainerd mengenai kemuliaan Allah? Mari kita bergumul sebagai pemuda dan serahkan hidup yang terbaik kepada Tuhan sesuai panggilan dari-Nya.

Disadur dari Sekilas KIN Pemuda 2015 Edisi 3