A Necessary Process

Devotion

A Necessary Process

30 March 2020

Bacaan: Yakobus 1:12

Zaman di mana kita hidup sekarang adalah zaman yang serba digital. Hampir segala sesuatu dibuat menjadi digital dan online. Lapar? Bisa langsung pesan makanan melalui aplikasi online dan tidak lama kemudian, voila, makanan sudah ada di depan rumah kita. Ingin mencari informasi? Lebih mudah lagi, tinggal ketik Google dan informasi yang kita cari langsung kita dapatkan dalam hitungan kurang dari satu detik. Hampir semua dapat kita dapatkan dengan cepat dan instan, dan tanpa kita sadari kita pun memperlakukan hal-hal spiritual dengan sikap yang serupa: serba instan.

Sebagai anak-anak muda Kristen, ketika kita melihat figur yang kita hormati dalam dunia kekristenan, tentunya kita ingin mempunyai kualitas rohani seperti orang yang kita kagumi tersebut. Namun, kita sering kali lupa akan proses yang dilalui orang tersebut hingga akhirnya dia menjadi sebagaimana dia ada sekarang ini. Kita hanya melihat hasil akhir yang begitu mulia, tetapi kita tidak tertarik dengan segala proses yang dilalui olehnya. Yang kita pikirkan hanyalah “bagaimana caranya supaya saya bisa mempunyai kerohanian yang begitu hebat itu dengan cepat dan instan”. Jawabannya adalah tidak bisa. Segala sesuatu ada prosesnya dan segala sesuatu ada waktunya.

Dengan kekuatan yang masih besar yang dimiliki oleh anak muda, kita sering kali ingin agar Tuhan bertindak dengan cepat. Kita ingin agar Tuhan mengikuti waktunya kita dan justru bukannya kita yang mengikuti waktunya Tuhan. Oleh sebab itu, tidak heran jika banyak pemuda-pemudi Kristen yang gagal dalam hal kesabaran dan kesetiaan. Ini bukan berarti sense of urgency itu tidak penting, tetapi poinnya terletak pada proses yang panjang dan sulit, yang harus kita lalui terlebih dahulu. Melalui proses ini mungkin Tuhan sedang melatih kesabaran, kesetiaan, dan ketekunan kita, sebelum Dia memakai kita untuk pekerjaan-Nya yang besar. Melalui proses yang tidak instan ini, yang Tuhan izinkan, kasih kita kepada Tuhan juga sedang diuji. Kasih bukanlah suatu hasrat yang muncul tiba-tiba dan menggebu-gebu karena hasrat yang demikian cenderung muncul dengan begitu cepat, tetapi menghilang dengan begitu cepat juga. Namun, kasih yang sejati adalah afeksi rohani yang kudus, yang terus menerus memperjuangkan kebenaran dengan kesabaran dan kesetiaan.

Jika kita selalu menginginkan kerohanian yang instan, kita tidak mungkin mempunyai kerohanian yang sehat. Menginginkan kerohanian yang besar itu baik, tetapi biarlah itu dicapai melalui suatu proses yang Tuhan persiapkan bagi kita. Janganlah kita melakukan menurut waktu dan kemauan kita yang serba instan, tetapi marilah kita minta kekuatan dari Tuhan agar kita bisa menjalankan segala proses pembentukan Tuhan dengan penuh kesabaran, kesetiaan, dan pengharapan. (SI)