Aku Yakin

Christian Life

Aku Yakin

13 November 2017

Matius 26:31-35, 69-75

Simon Petrus dan para murid Tuhan Yesus lainnya sudah melihat berbagai mukjizat serta kuasa Tuhan dalam diri Yesus Kristus. Namun mereka hanyalah manusia berdosa yang tidak lepas dari kelemahan. Khususnya Petrus yang telah jatuh menyangkal Kristus. Seperti Petrus, kita pasti pernah merasa yakin untuk sukses, lulus, dan setia dalam mengikut Tuhan. Tapi kita lupa betapa lemahnya kita. Kita tidak sadar akan eksistensi “balok” yang ada di dalam mata kita. Maka ketika kondisi “yang memaksa” itu datang, rupanya kita sedang tidak berjaga-jaga sehingga kita goyah dan pada akhirnya terjatuh.

“Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Seperti itulah janji kita kepada Tuhan yang sering kali hanya menjadi janji manis. Perkataan Petrus dijawab oleh Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau sudah menyangkal Aku tiga kali.” Demikianlah kita, bahkan sesudah Tuhan menegur dan memperingati melalui firman-Nya, kita tetap acuh tak acuh dan merasa diri mampu untuk setia mengikut Tuhan. Kemudian, inilah jawaban Petrus, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Kita tahu kelanjutan kisah ini. Keyakinan Petrus berujung kepada pengkhianatan dan penyangkalannya terhadap Kristus.

“Yaah... Itu kan Petrus,” pikir kita. Sering kali hal ini bisa menjadi statement yang merupakan buah kesombongan diri kita. Sebab sama seperti Petrus yang berkata, “biarpun mereka semua tergoncang”, kita seolah-olah merasa bahwa diri kita tidak akan jatuh. Namun, dari Alkitab kita semua bisa melihat pada akhirnya Petruslah yang menyangkal Yesus pertama kali, sesudah Yesus diserahkan oleh Yudas kepada para imam kepala dan tua-tua. Inilah kondisi diri kita. Kita lemah! Ketika kita mengikut Tuhan, kita sering membuat janji untuk setia melayani dan menjadi saksi-Nya. Tetapi sangat disayangkan, karena kesombongan, kita sering kali khilaf dan lupa akan janji yang pernah kita buat. Ketika ada suatu hal yang menarik hati dan memaksa kita untuk “sementara waktu” menyangkal Tuhan, kita akan tergoda untuk melakukannya.

Melayani Tuhan dan menjadi saksi-Nya yang setia bukan hanya soal pelayanan di gereja saja, tetapi juga soal hidup kita sehari-hari di luar sana. Apakah hidup kita mencerminkan gambar dan rupa Allah? Apakah kita menjadi terang dan garam bagi kerabat serta lingkungan kita? Apakah kita, bukan hanya mengasihi saudara seiman kita, tetapi juga saudara kita di luar sana yang belum percaya? Karena dengan semuanya itu, Tuhan kita akan dipermuliakan. Jangan justru kita yang terbawa arus dunia akibat ketidakwaspadaan dan ketidaksetiaan kita.

Kita harus terbangun dari cengkeraman pride atau kesombongan diri. Akan tetapi – sama seperti Petrus pada waktu itu – kita sering kali tidak mengenal kelemahan kita. Hanya Tuhan Yesus yang sungguh mengetahui isi lubuk hati kita yang terdalam. Oleh karena itu, hanya dengan cara berdoa meminta belas kasihan Tuhan untuk mengubah hati dan jiwa kita sajalah kita baru dapat diubahkan. Marilah kita meminta kepada Tuhan, agar diberikan kepekaan dan kesadaran terhadap kelemahan diri kita, serta kerelaaan dan keberaniaan untuk berubah dan diubahkan. (ET)