Apakah Anak Manusia sehingga Engkau Mengindahkannya?

Christian Life

Apakah Anak Manusia sehingga Engkau Mengindahkannya?

16 July 2018

Mazmur 8

Ironi kehidupan manusia setelah jatuh ke dalam dosa adalah manusia terus mencari jati dirinya sendiri. Diri tidak lagi kenal diri, diri ingin mencapai diri yang dirinya tidak kenal, diri tidak lagi tahu makna dirinya, dan seterusnya. Ia ingin diakui keberadaan dirinya, padahal sesungguhnya hal itu sudah ia dapatkan ketika Tuhan menciptakan manusia sejak semula dari manusia pertama.

Kejadian 1:26 dengan jelas menunjukkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tidak ada makhluk lain yang diciptakan sedemikian mulia selain manusia. Begitu mulianya sampai-sampai Daud mengungkapkan kekaguman dan ketidakmengertiannya dalam nyanyian Mazmur:

“Jika aku melihat langitMu buatan jariMu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.” (Mzm. 8:3-6)

Manusia–kita, diciptakan dan dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Sedikit lebih rendah dari malaikat. Manusia diberikan keberadaan dan jati diri yang sudah puncak dan tidak mungkin ditambah lagi. Sudah sempurna di mata Allah, namun hilang karena dosa. Itulah sebabnya manusia terus mencari keterhilangan tersebut untuk mendapatkannya kembali. Namun sayang, manusia mencari pada sumber, arah, dan tujuan yang salah. Manusia bukannya mencari kepada Allah Sang Pencipta-Nya, malahan mencari kepada sumber yang lain yang juga merupakan ciptaan yang terbatas dan rusak karena dosa. Manusia bukannya mengarahkan diri kepada jalan yang sudah disediakan oleh Allah untuk menyatakan keberadaan dan jati dirinya, ia malah melangkahkan kaki berjalan pada jalan yang dibuatnya sendiri yang ujungnya menuju maut. Manusia bukannya mengekspresikan dirinya menuju pada tujuan yang sesuai dengan kehendak Tuhan (kehendak yang membawa diri manusia pada kemuliaan yang sesungguhnya), ia malah menentukan tujuannya sendiri yang justru membawanya kepada kebinasaan.

Inilah ironi manusia berdosa. Menganggap diri sanggup mewujudkan keberadaan dan jati dirinya sendiri namun sesungguhnya ia sedang menggali kuburan untuk dirinya sendiri.

Mari kita kembali kepada keberadaan dan jati diri kita semula. Kembali kepada Sumber yang sesungguhnya yang sudah menciptakan kita dan memberikan mahkota kemuliaan dan hormat yang sesungguhnya. Daud sanggup melihat itu karena dia mengarahkan diri kepada Sumber yang benar; Sumber yang adalah Pencipta manusia yang kita kenal di dalam nama Yesus Kristus. (DS)