Aturan!

Christian Life

Aturan!

7 December 2020

Bacaan: Filipi 2:1-11

Setiap tempat atau organisasi apa pun, pasti memiliki peraturannya masing-masing. Misalnya, ketika kita kuliah di suatu universitas, kita harus mengikuti peraturan yang sudah ditentukan berkaitan dengan administrasi, jadwal akademik, dan sebagainya, di universitas tersebut. Demikian juga ketika kita bekerja di suatu perusahaan, ada deretan peraturan yang harus kita patuhi, seperti hadir tepat waktu, menyelesaikan setiap tugas sesuai deadline, dan sebagainya. Tidak jarang kita harus begadang demi menyelesaikan makalah atau laporan. Karena jika tdak diselesaikan, kita tidak akan lulus atau mungkin akan kehilangan pekerjaan tersebut. Maka, kita akan berusaha sepatuh mungkin mengikuti segala aturan yang ada demi terhindar dari risiko atau kerugian yang akan menimpa kita.

Kita begitu tunduk dengan aturan yang ada di kampus dan kantor, namun ironisnya, kita malah sering kali tidak mau tunduk dengan aturan di gereja (catatan: gereja yang benar-benar setia kepada firman Tuhan serta menegakkan prinsip-prinsip pelayanan yang sesuai dengan Alkitab). Alih-alih mengikuti “aturan” yang ada, kita malah menuntut gereja untuk mengikuti aturan yang kita buat sendiri. Kita mau diperhatikan, dimengerti, dan tidak dituntut. Jika gereja yang sekarang tidak bisa memberikan hal-hal ini kepada kita, mudah saja untuk kita meninggalkan gereja itu dan mencari komunitas baru yang bersedia menerima kita.

Jika kita menyelami hati kita yang terdalam, sebenarnya kita mengikuti segala aturan yang ada di kampus dan kantor bukan karena kita mengasihi kampus dan kantor tersebut, tetapi karena kita tahu bahwa kita akan untung jika kita menaati aturan yang ada. Kita akan mendapatkan ijazah dari kampus dan gaji dari kantor. Jadi, walaupun sebenarnya kita mungkin tidak rela mengikuti aturan yang ada, kita tetap taat demi mendapatkan keuntungan bagi diri kita. Sebaliknya, kita merasa gereja tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi kita, justru gereja yang untung kalau ada kita, karena kita memberikan persembahan. Maka, kita merasa bahwa gereja yang harus mengikuti kemauan kita dan bukan sebaliknya.

Ini merupakan ide yang sangat mengerikan. Kita tidak sadar bahwa sesungguhnya kitalah yang sangat membutuhkan Tuhan dan gereja-Nya. Tuhan sama sekali tidak rugi jika kita pergi meninggalkan Dia. Bukan Tuhan yang memerlukan kita, tetapi kitalah yang sangat memerlukan Dia. Tuhan sebenarnya tidak perlu menebus manusia yang berdosa, Dia tidak punya kewajiban atau hutang moral seperti itu kepada kita, ciptaan yang suka memberontak ini. Namun, karena Dia mengasihi kita, Dia memberikan Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan Yesus Kristus yang rela mati di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Tuhan Yesus tidak merasa terpaksa mengikuti aturan dari Bapa. Dia naik ke atas kayu salib karena Dia mau dan rela melakukannya. Tuhan Yesus menebus umat manusia bukan karena Dia diuntungkan, tetapi karena Dia mengasihi Bapa di sorga dan manusia di bumi.

Prinsip seperti inilah yang seharusnya kita hidupi. Kita hidup bukan untuk sekadar mengikuti aturan demi mengejar keuntungan bagi diri. Kita tidak dipanggil untuk lari ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, apalagi keinginan kita sering kali salah dan tidak sesuai dengan keinginan Tuhan. Gereja bukan menjadi tempat kita memperjuangkan kehendak kita, tetapi gereja adalah wadah untuk kita mengerti dan melaksanakan kehendak Tuhan. Pasti akan ada kesulitan yang kita hadapi, dari luar diri maupun dari dalam diri kita. Namun, ketika masa-masa sulit ini datang, yang perlu kita lakukan adalah meneladani Tuhan Yesus, dan berlutut, berdoa kepada Bapa di sorga, “Biarlah kehendak-Mu yang jadi!”

Kiranya Tuhan memberkati kita dan menjadikan kita pribadi yang rela hidup demi kemuliaan Allah dan demi sesama kita. Amin. (AMM)