Battle of a Lifetime

Devotion

Battle of a Lifetime

25 June 2018

Bacaan: 1 Yohanes 3:9; Roma 7:21; Galatia 5:17

Mari kita kembali mengingat masa-masa ketika kita telah sungguh-sungguh menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bukankah masa itu sungguh indah? Kalau kejadian itu sudah terlalu jauh, coba pikirkan masa-masa tertentu dalam hidup kita di mana kita berkomitmen ulang kepada Tuhan untuk hidup sungguh-sungguh bagi-Nya. Dengan berlinang air mata, atau apa pun modelnya, kita kembali berjanji meninggalkan dosa-dosa dan merancang suatu pola hidup baru untuk dijalani. Tetapi cepat atau lambat, kita gagal lagi…

“Kenapa aku masih berdosa? Bukankah aku telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku?” “Oh Tuhan…. Kapankah pertarungan antara diriku dan dosa di dalamku ini akan berakhir?” Mungkin banyak di antara kita yang sering memikirkan pertanyaan ini. Kita begitu kalut saat kita babak belur oleh dosa. Kita menemukan, seperti dalam Roma 7:21, bahwa justru saat kita dalam kondisi terbaik, ternyata hukum dosa itu ada di dalam kita. Kita tidak tersandung ketika kita sedang dalam kondisi down, sebaliknya dosa itu justru bekerja di saat-saat kita paling ingin menyenangkan Tuhan. Setitik kesombongan dapat menyelinap dan menodai pekerjaan kita justru pada saat kita begitu rendah hati. Sungguh celaka! Siapakah yang bisa melepaskan kita dari tubuh berdosa ini? (Rm. 7:24)

Kita harus sungguh-sungguh menyadari, bahwa selama kita hidup, peperangan dengan dosa akan terus terjadi (Gal. 5:17). Namun, meski demikian, hati orang yang percaya telah diperbarui oleh Kristus. Orang seperti ini tidak mungkin akan menjadikan dosanya sebagai suatu “karier” hidupnya. Benih ilahi yang ada di dalamnya tidak akan pernah mungkin hidup berdamai dengan dosa (1Yoh. 3:9). Inilah yang pada akhirnya akan membedakan orang percaya pada keadaan mereka yang terburuk dengan orang tidak percaya pada keaadan mereka yang terbaik. Bahkan pada saat orang percaya jatuh babak belur oleh dosa, hati barunya akan terus membenci dosa. Ia tidak akan pernah merasa damai sampai dosa itu hancur. Sebaliknya, orang yang tidak percaya mungkin saja terlihat baik-baik dan sopan di permukaan, namun jika Tuhan menarik anugerah umum-Nya maka orang itu akan dengan sukarela dan bahkan menikmati penyerahan dirinya kepada dosa. Hanya anugerah Tuhan yang memampukan kita menang atas dosa, bersamaan dengan itu marilah kita juga bersungguh-sungguh hidup taat bagi Tuhan. Melalui semuanya, kiranya segala hal jatuh di tempat semestinya. (AMM)