Berdalih

Christian Life

Berdalih

29 January 2018

Bacaan: Lukas 14:15-24

Di dalam menjawab panggilan Tuhan, respons manusia bisa bermacam-macam. Kisah di Lukas 14 ini dimulai dari seorang Farisi yang menyatakan kebahagiaan orang yang dipanggil Allah untuk dapat masuk ke dalam perjamuan-Nya. Lalu Yesus menanggapinya dengan satu kisah perumpamaan. Dalam perumpamaan ini, jelas tergambarkan orang-orang yang mendapatkan undangan senang menerima undangan pada awalnya, namun semuanya berubah menolak undangan kedua ketika ada sesuatu yang menghalangi mereka.

Tentu jika pada saat tenang, ada perintah yang masuk akal atau bahkan kita senangi, akan mudah bagi kita menjawabnya. Panggilan Tuhan akan kita jawab dengan begitu khusyuk, “Ya, Tuhan”. Namun, sebenarnya ketulusan hati kita akan teruji sering kali justru pada waktu yang tidak pas, yaitu ketika ada kegiatan kita yang bertabrakan dengan panggilan Tuhan tersebut. Ketika ada sesuatu yang lain yang kita senangi atau kita kejar, bertabrakan dengan panggilan Tuhan, apakah yang akan kita perbuat?

Telah banyak kesempatan kita untuk dapat belajar, untuk dapat mengenal Tuhan lebih lagi, namun telah banyak kali juga kita berdalih darinya dengan berbagai alasan. Dalam perumpamaan ini diceritakan contoh-contoh praktis yang menunjukkan kepada kita betapa tidak masuk akalnya alasan-alasan mereka sebenarnya. Mengenai ladang, ia seharusnya mengecek sebelum dan bukan sesudah membeli ladang tersebut. Mengenai lembu, lembu itu akan masih ada besok harinya, tidak akan menjadi hal besar untuk dia meninggalkannya sejenak. Mengenai alasan sebagai pengantin baru, tentu ini juga menjadi suatu lelucon lainnya. Semuanya itu memperlihatkan kepada kita, betapa banyak kita sangat menghargai kesenangan kita sendiri atau hal yang kita anggap penting, semua hal yang logis bagi kita untuk dijadikan alasan yang sah, bahkan sah untuk menolak panggilan Allah sekalipun.

Walau pada awalnya kita memiliki niat yang terbaik dalam melayani Allah, namun semuanya akan tersaring melalui ujian-ujian yang ada. Saat ada tuntutan lain yang menghadang kita, bukankah sering kali kita dapat begitu mudah mendahulukannya, lalu meminta maaf kepada Allah? Kita boleh saja sejak awal berkomitmen sungguh-sungguh kepada Allah untuk melayani-Nya, namun hal itu hanya menjadi seperti suara gema saat ada tuntutan lain yang lebih logis untuk dikerjakan. Kita merasa Allah pasti maklum dengan kesulitan kita dan mengerti kondisi kita. Dia Allah yang Maha-Pengasih dan Pengampun.

Padahal siapakah yang menciptakan kita? Siapakah yang mengetahui potensi kita yang paling maksimal? Siapakah yang mengetahui apa yang seharusnya kita kerjakan? Siapa yang berdaulat atas segala kejadian di dunia ini, termasuk hal yang menghadang kita? Tiada yang lain, selain ALLAH. Betapa picik pikiran kita, ketika kita berani beralasan dengan menggunakan anugerah-anugerah Tuhan pada kita, seperti pekerjaan, kuliah, kekasih, dan segala hal lainnya, untuk menolak Tuhan Allah.

Tuhan Yesus Kristus menuntut semangat dan keberanian total dari diri orang yang memercayai-Nya. Mari kita taat kepada setiap panggilan Tuhan. Ketika kita taat, kita akan segera mengetahui bahwa semua yang dikatakan-Nya mempunyai kemantapan sekokoh akal sehat dan semua alasan kita akan menjadi sangat tidak masuk akal. Mari kita bertobat di hadapan Tuhan. Amin. (TH)