Bergaul dengan Allah

Devotion

Bergaul dengan Allah

14 December 2020

Di dalam Alkitab hanya dua orang yang ditulis bahwa mereka bergaul dengan Allah. Yang pertama adalah Henokh. Yang kedua adalah Nuh. Di dalam Alkitab, ekspresi “bergaul dengan Allah” menunjukkan seseorang yang taat dan berbakti kepada Allah. “Bergaul dengan Allah” berarti menjalin relasi dengan Allah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, menghormati Allah di dalam setiap pilihan kita di setiap aspek hidup kita.  Dalam Kejadian 5:22 dikatakan Henokh bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak laki-laki dan perempuan. Henokh adalah manusia pertama yang dicatat dalam pasal ini yang kisahnya tidak berakhir dengan  frasa “lalu ia mati”. Di Kejadian 5:24 kembali ditegaskan bahwa Henokh bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Kisah ini mirip dengan kisah Elia yang diangkat Allah ke sorga (2Raj. 2:9-12).
Orang kedua yang digambarkan sebagai orang yang hidup bergaul dengan Allah adalah Nuh.  Di dalam Kejadian 6: 9 dikatakan bahwa Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Sebagai keturunan Adam, Nuh juga adalah orang berdosa, tetapi Nuh adalah orang beriman, yang percaya akan Allah, dan menaati-Nya. Di tengah-tengah kehidupan orang sezamannya yang jahat dan tidak takut kepada Allah, Nuh merupakan orang yang hidupnya berbeda. Dia tetap menjalankan perintah Allah seperti membangun bahtera yang jelas-jelas di zaman Nuh sangat tidak masuk akal karena tidak pernah muncul hujan apalagi badai yang membawa bencana banjir. Orang-orang sezamannya menertawakannya, namun Nuh tetap percaya kepada Allah dan menaati-Nya. Inilah artinya Nuh bergaul dengan Alllah.
Melalui hidup bergaul dengan Allah, Allah memberikan anugerah di mana Henokh diangkat ke sorga tanpa harus melalui kematian; sedangkan Nuh diselamatkan dari air bah yang menghancurkan dunia. Kiranya kisah Henokh dan Nuh membangkitkan iman kita kembali untuk berani hidup bergaul dengan Allah di tengah zaman yang tidak lagi percaya dan takut akan Allah. Percayalah, Allah tidak pernah meninggalkan orang yang mengasihi-Nya. [DS]