Berkat-Nya atau Pribadi-Nya?

Devotion

Berkat-Nya atau Pribadi-Nya?

29 October 2018

Bacaan Alkitab: Kejadian 22:1-19

Bagaimana rasanya jikalau kita berdoa, minta sesuatu kepada Tuhan, lalu Tuhan berikan kepada kita, tetapi tidak lama kemudian, Tuhan mengambilnya kembali? Mungkin hal pertama yang akan kita lakukan adalah bertanya, “Kalau Tuhan akhirnya meminta kembali, kenapa Tuhan berikan?” dan akhirnya kita menjadi kecewa kepada Tuhan. Banyak orang menjadi kecewa, tidak hanya ketika Tuhan tidak mengabulkan doanya, tetapi juga ketika Tuhan mengambil daripadanya harta, orang yang disayangi, kekuasaan, dan banyak hal lainnya. Pertanyaannya, bagi kita sesungguhnya berkat Tuhan ataukah kehadiran Tuhankah yang terpenting?

Kisah Abraham ini bukan bercerita tentang kehilangan harta benda, atau sesuatu yang dapat dibeli, atau kehilangan pekerjaan, atau hancurnya sebuah mimpi, melainkan kehilangan segala keinginan yang telah lama dinantikan. Sebuah kisah tentang seorang ayah yang sudah tua dan memiliki seorang anak laki-laki yang sudah sangat lama dirindukannya yaitu Ishak. Meski di tengah Abraham menunggu keturunan yang Tuhan janjikan, mereka memutuskan untuk membantu Tuhan dengan rancangan mereka sendiri. Sesuai dengan permintaan Sara, Abraham mendapatkan seorang anak dari hamba perempuannya. Berapa banyak daripada kita ketika kita memohon sesuatu kepada Tuhan, kita tidak mau menunggu waktu Tuhan sehingga kita berusaha untuk “menolong” Tuhan dengan menjalankan cara kita sendiri?

Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya Tuhan memberikan Abraham anak di masa tuanya, yaitu Ishak. Abraham semakin hari semakin menyayangi Ishak. Dan pada Kejadian 22:1 dikatakan Allah mencoba Abraham. Mengapa Tuhan yang baik dan penuh kasih meminta hamba-Nya yang taat dan setia ini untuk mengorbankan anaknya yang sangat ia kasihi itu? Di dalam bahasa Ibrani, mencoba mengambil kata “nasah”, memiliki arti membuktikan kualitas sesuatu, dan biasanya melalui sebuah ujian. Tuhan ingin membuktikan keabsahan atau keaslian iman Abraham, dan Tuhan mengenal hati Abraham melebihi Abraham mengenal hatinya sendiri.

Ketika Abraham akan mempersembahkan Ishak, pastilah malam sebelumnya, ia tidak bisa tidur. Kegelisahannya pasti tidak tertahankan, namun dalam tindakannya kita melihat suatu sikap berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Ia tidak menyembunyikan apa pun dan tidak ada keraguan. Di ayat 3 dinyatakan bahwa keesokan harinya pagi-pagi ia mempersiapkan perlengkapannya, membangunkan Ishak sebelum matahari terbit, dan memulai perjalanan mereka. Keyakinan Abraham sangat tenang. Di dalam ayat 7 NIV dikatakan, “we will worship and then we will come back to you.” Tidak ada tempat untuk keragu-raguan. Abraham dengan jelas mengatakan bahwa ia akan kembali pulang bersama dengan Ishak. Ibrani 11:17-19 bahkan mencatat bahwa ia beriman kepada Tuhan, karena ia percaya bahwa Allah yang ia percaya sanggup membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati, dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

Tuhan memberikan kebebasan kepadanya untuk melepaskan semua kekhawatirannya dan mempertaruhkan semuanya untuk taat. Abraham melepaskan anaknya karena ia sepenuhnya percaya kepada Tuhan. Demikianlah juga, Allah Bapa telah menunjukkan kepada kita bagaimana kita harus hidup ketika Ia melepaskan Anak-Nya yang tunggal demi kita. Jika Bapa rela melepaskan anak-Nya yang tunggal bagi kita, apakah ada yang lebih berharga yang tidak kita serahkan kepada-Nya? Hal apakah yang saat ini sedang Anda genggam dengan erat?

Biarlah tidak ada yang kita genggam terlalu erat sehingga kita sudi melepaskan Kristus. Melainkan biarlah yang kita genggam erat hanyalah Kristus, sehingga kita mudah melepaskan segala sesuatu oleh karena Kristus lebih berharga daripada semuanya itu. Soli Deo gloria! (TW)