Berubah

Positif atau Negatif?

Berubah

11 February 2019

Herakleitos, seorang filsuf Yunani mengeluarkan satu konsep yang sangat terkenal: panta rhei kai uden menei, yang berarti: “semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap.” Tidak ada satu pun hal di alam semesta yang bersifat tetap atau permanen. Tidak ada sesuatu yang betul-betul ada, semuanya berada di dalam proses menjadi. Herakleitos memakai contoh air. Bagi Herakleitos, seluruh kenyataan adalah seperti aliran sungai yang mengalir. “Engkau tidak dapat turun dua kali ke sungai yang sama.” begitulah kata Herakleitos. Maksud dari kalimat tersebut adalah air sungai selalu bergerak, sehingga tidak pernah ada seorang pun yang dapat turun di air sungai yang sama dengan yang sebelumnya.

Segala sesuatu, termasuk manusia yang sepanjang hidupnya ada di dalam ruang dan waktu, akan terus berproses. Manusia tidak mungkin berada dalam kondisi statis, melainkan ia akan selalu berubah. Salahkah kita berubah? Tentu saja tidak! Namun, yang menjadi pertanyaan adalah perubahan yang seperti apakah itu? Ke arah positifkah atau ke arah negatif?

Keberadaan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, tidak akan pernah berproses atau berubah ke arah yang lebih baik; kecuali ia bertobat dan menaruh hidup sepenuhnya dalam pimpinan tangan Sang Penebus hidup, yaitu Yesus Kristus. Ia adalah Anak Allah yang tunggal, yang mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia dan bangkit dari kematian agar umat tebusan-Nya mampu hidup berproses menuju kepada yang lebih baik selama mereka hidup di dunia ini.

Semua manusia pasti berubah, baik yang kelihatan maupun tidak. Ironisnya kita lebih peka pada perubahan fisik kita yang kelihatan daripada perubahan rohani kita yang tidak kelihatan. Ketika perubahan fisik kita dinilai jelek atau berubah menjadi lebih jelek, kita gelisah. Kita akan cenderung membereskannya secepatnya supaya menjadi lebih baik atau lebih sehat atau lebih indah dilihat. Demikian juga ketika perubahan fisik kita dinilai baik, kita bangga, apalagi ketika dipuji banyak orang. Namun, pernahkah kita peduli dengan perubahan rohani kita? Kita sering kali tidak peka akan kerohanian kita, kita tidak sadar kerohanian kita sudah makin kering atau bahkan menuju kematian. Celakanya, kematian kerohanian tidak membuat kita makin gelisah, tetapi justru kepekaan akan kehilangan kerohanian pun total hilang. Teguran dan nasihat yang Tuhan berikan melalui sesama seiman, akan kita anggap sebagai gangguan bagi hidup kita. Kematian rohani menjadikan kita nyaman berada di dalam ketidakpedulian kita terhadap perubahan rohani diri kita yang menuju kepada kematian kekal. Jika sudah demikian, di manakah pengharapan? Tidak ada lagi pengharapan, kecuali kita mendapat belas kasihan Tuhan untuk menghidupkan kembali kerohanian kita yang sudah mati itu.

Hari ini ketika kita membaca artikel ini dan rohani kita sedang berubah ke arah yang makin negatif atau makin menjauh dari Tuhan dan makin menuju kematian kekal, marilah kita minta belas kasihan Tuhan. Kiranya Tuhan memberikan kepada kita kesempatan untuk berubah dan berproses menuju kepada kehidupan yang bergairah bagi Tuhan sebagai tanda kerohanian kita yang sudah dihidupkan. Amin. (DS)