Blessed Assurance

Christian Life

Blessed Assurance

27 November 2017

“Rumah duka” dinamakan demikian bukan tanpa alasan. Sungguh sangat banyak kepedihan yang dinyatakan dengan tetesan air mata di tempat tersebut. Mengapa? Karena seseorang yang kita kasihi telah meninggalkan dunia ini. Kematian digambarkan sebagai suatu hal yang mengerikan di sepanjang sejarah. Misalnya lukisan oleh Michelangelo yang berjudul “The Last Judgment” menggambarkan betapa seram dan kacaunya Hari Penghakiman nanti.

Gereja Katolik pun juga memiliki Misa untuk kematian yang dikenal sebagai Requiem. Di dalamnya ada sebuah lagu berjudul “Dies Irae” (Hari Kemurkaan). Lirik ini menggambarkan tentang “Hari kemurkaan, hari di mana bumi akan larut menjadi abu.” Baik Verdi maupun Mozart menggubah melodi yang agak menyeramkan dan memiliki banyak ketegangan yang tidak berakhir atau tidak memiliki resolusi. Di tengah-tengah, ada suatu kalimat yang menjadi pertanyaan setiap orang sepanjang sejarah, “Siapa yang akan menjadi pelindung, ketika orang benar sekali pun tak yakin bahwa mereka akan aman?”

Hal ini yang membuat Martin Luther ketakutan akan kematian, sampai-sampai dia mengatakan bahwa dia membenci Tuhan. Luther terus menerus mencoba untuk tidak berdosa. Namun kenyataannya, tiap hari dia harus datang ke ruang pengakuan untuk mengakui dosanya. Bahkan suatu kali, ketika Luther baru selesai memberikan pengakuan dosa dan keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba dia tersadar akan suatu dosa lagi dalam hatinya. Lalu dengan segera ia masuk kembali untuk mengakui dosa tersebut. Sampai suatu hari Luther sadar bahwa keselamatan hanya datang melalui iman yang boleh membuatnya suci oleh karena kesucian Kristus. Salvation is by faith alone! Keselamatan tidak tergantung kepada kita, tetapi kepada Kristus! Dengan ini dia tidak melihat kepada doomsday, tetapi kepada suatu hari yang memberikan sukacita.

Keyakinan ini digambarkan dengan sangat baik dalam Katekismus Heidelberg, pertanyaan 52: “Penghiburan apa yang Saudara peroleh dari kedatangan Kristus kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati?” Jawab: “Bahwa dalam segala kedukaan dan penganiayaan, dengan kepala tegak aku tetap menantikan kedatangan Dia, yang dahulu menghadapi pengadilan Allah guna kebaikanku, dan yang telah mengangkat seluruh kutuk Allah dariku, untuk menjadi Hakim sorgawi. Dia akan membuang semua musuh-Nya, yang adalah juga musuhku, ke tempat kutuk yang kekal, tetapi akan menyambut aku bersama dengan semua orang pilihan-Nya dalam kesukaan dan kebahagiaan yang di sorga.”

Pengertian akan kematian dan penghakiman seperti inilah yang membuat Fanny Crosby boleh menulis suatu himne yang sangat indah, yang boleh menjadi berkat bagi banyak orang.

Blessed assurance, Jesus is mine!
O what a foretaste of glory divine!
Heir of salvation, purchase of God,
Born of His Spirit, washed in His blood.
This is my story, this is my song,
praising my Savior all the day long;

Suatu hari penulis datang ke rumah duka dan bertanya kepada diri sendiri: saat saya menghadapi kematian diri saya sendiri suatu hari nanti, bagaimana saya menghadapinya? Ada ketakutan, tetapi juga kita harus sungguh bersyukur akan blessed assurance yang sudah diberikan kepada kita yang percaya kepada-Nya. (EYST)