Bukan Sekadar Penerimaan

Devotion

Bukan Sekadar Penerimaan

8 November 2021

Bacaan: 1 Yohanes 4:10-11

Apa yang membuat kita merasa dikasihi? Apa yang membuat kita betah dalam sebuah komunitas? Apakah karena penerimaan orang? Jikalau penerimaan komunitas adalah jawabannya, maka sebenarnya konsep dikasihi kita salah. Penerimaan komunitas memang sangat penting, akan tetapi penerimaan kita akan orang lain sering kali memiliki catatan tambahan, bahwa mereka juga harus menerima kita. Padahal ini artinya balas jasa. Konsep mengasihi dan dikasihi seperti ini sebenarnya adalah konsep kasih yang egois.

Pada ayat 10, Yohanes menjelaskan bahwa kasih merupakan inisiatif dari Allah dan bukan dari manusia. Yohanes mencatat bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya dengan cara mengirimkan Anak-Nya untuk menerima hukuman yang disebabkan oleh dosa kita. Terjemahan ESV menggunakan kata propitiation. Propitiation sendiri berarti tindakan yang memenuhi tuntutan Allah untuk mendapatkan kebaikan ilahi ataupun menghindari hukuman ilahi. Inilah bentuk pendamaian yang diwakili oleh Adam kedua: Tuhan Yesus telah memuaskan tuntutan hukuman dosa dari Allah, sehingga kita bisa menghindari hukuman ilahi dan menerima kebaikan ilahi, pemulihan relasi dengan Allah.

Kemudian dilanjutkan dengan ayat 11 tentang bagaimana kita seharusnya mengasihi seperti Allah mengasihi. Memang kita tidak bisa menghapus dosa orang lain, tetapi kasih Allah yang suci dan penuh pengorbanan menggerakkan kita untuk mengasihi Tuhan dan juga sesama. Kasih Kristus seharusnya menjadi motivasi utama terbentuknya sebuah komunitas. Komunitas Kristen bukan dibentuk untuk mendapatkan kasih dari sesama, tetapi supaya kasih Kristus dapat termanifestasikan di dalamnya. Dengan demikian, kasih ilahi Kristus akan terus memenuhi diri kita, komunitas kita, bahkan terpancar keluar. Jikalau kita mengatakan diri kita tidak pernah diterima oleh komunitas, maka kita harus mulai bertanya apakah komunitas kita sebenarnya tidak didasarkan oleh kasih Kristus (yang sebenarnya adalah kasih dunia) atau kita sebenarnya memiliki konsep kasih yang salah.

Di sisi lain, pengorbanan Kristus yang menyebabkan rekonsiliasi dengan Allah dan sesama merupakan sesuatu yang harus terus dikerjakan. Setiap umat Allah yang sudah ditebus harus rela untuk dibentuk menjadi lebih sempurna karena Bapa yang di sorga adalah sempurna (Mat. 5:48). Maka itu, ketika memilih komunitas pun harus berhati-hati. Jikalau komunitas hanya menerima kita dan tidak pernah menegur dosa kita, berarti itu bukan komunitas yang didasarkan kasih Kristus, melainkan hanya mengisi kekosongan diri kita dengan penerimaan yang fana. Setiap orang yang sudah bertobat seharusnya tidak mencari komunitas yang diingininya, tetapi komunitas yang bisa saling menguduskan dalam Kristus dan firman-Nya. Tentunya ini bukan proses yang menyenangkan karena manusia berdosa pada dasarnya tidak suka ditegur. Akan tetapi, di sanalah kita dapat melihat sisi lain dari kasih yang sejati.

Biarlah kasih yang melimpah dari Kristus terus membuat kita merasa cukup dan bahkan lebih, sehingga kita juga bisa membagikan kasih-Nya dan menyempurnakan orang lain di hadapan Allah. (S)