Commit to Diet

Devotion

Commit to Diet

21 May 2018

Bacaan: Efesus 6:12

Pernahkah teman-teman mencoba untuk diet atau memulai healthy lifestyle? Jika pernah, pasti teman-teman mengerti seberapa susahnya untuk menjalani komitmen itu, terutama jika ada makanan favorit terletak tepat di depan mata. Apa yang akan kita lakukan jika ada nasi goreng, es krim, atau gorengan di depan mata? Akankah kita ambil dan makan? Akankah kita kompromi dan melupakan komitmen awal? Pasti sebenarnya kita tahu apa yang seharusnya dilakukan. Ya! Seharusnya kita tidak tergoda akan hal-hal yang bisa mematahkan komitmen awal kita. Seharusnya…

Namun, justru sering kali di dalam kondisi seperti ini, kita kompromi dan mengatakan kepada diri sendiri “Ah gapapa lah.. besok aja diet deh”. Yah, kalau seperti itu terus, lalu kapan benar-benar diet dan hidup sehat? Pasti akan selalu mulai besok, alias tidak mulai sama sekali. Namun, jika kita benar-benar berpendirian teguh, kita akan tempuh proses diet ini  bagaimanapun sulitnya.

Jika di dalam diet saja kita bisa kompromi, apalagi di dalam kerohanian kita. Harus diakui sering sekali kita bukan hanya berkompromi, tapi memberikan alasan-alasan “logis” kepada Tuhan untuk melegalkan keberdosaan kita. Kita mencoba untuk merayu Tuhan dengan berkata “Ah gapapa… bertobat besok aja”, bukan karena kita tidak tahu itu adalah dosa, tapi karena kita ingin menikmati dosa itu. Kita tahu apa yang seharusnya dilakukan, namun kita memilih untuk memakan permen beracun itu yang manis sesaat dan mematikan di akhir.

Mari kita refleksi lebih dalam kira-kira apa alasan di balik hilangnya komitmen dalam kehidupan rohani kita. Salah satu contoh konkret adalah komitmen kita dalam bersaat teduh dan berdoa. Banyak alasan yang bisa memengaruhi saat teduh kita yang bolong-bolong, tapi alasan yang paling utama adalah kita merasa bisa hidup secara independen tanpa Tuhan. Kita merasa dengan tidak bersaat teduh, hidup kita berjalan baik-baik saja. Dalam hati kita terdalam, kita tidak benar-benar menghidupi kehidupan yang bergantung pada Tuhan, dan kita pelan-pelan dihanyutkan dalam dosa.

Benar-benar sadarkah kita bahwa perjuangan kita melawan roh-roh jahat ini tidak mudah? Jika kita sadar sepenuhnya, maka kita tidak akan berani membuka celah sedikit pun untuk kompromi dan bergantung pada diri sendiri karena kita juga sadar bahwa daging kita lemah. Mari sekali lagi kita sadar akan kebobrokan dan ketidakmampuan diri, dan bertekuk lutut meminta pertolongan serta belas kasihan Tuhan. (AES)