Common Grace is Still Grace

Devotion

Common Grace is Still Grace

22 February 2021

“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat. 5:45)

Ketika berbicara tentang anugerah, dalam Theologi Reformed kita mengenal istilah anugerah umum (common grace) dan anugerah khusus (saving grace). Tentu sebagai orang Kristen, ketika kita berbicara tentang anugerah khusus atau anugerah keselamatan, hati kita menjadi gentar. Mengapa? Karena itulah hal yang sangat penting dan yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang berdosa, seperti kita semua. Itu juga yang menjadi doa kita ketika kita melakukan penginjilan, bukan? Kita memohon belas kasihan Tuhan agar Tuhan memberikan anugerah keselamatan-Nya pada orang yang kita injili. Dengan demikian, orang-orang Kristen, termasuk diri kita, menempatkan anugerah khusus pada posisi yang sangat spesial dan hal ini benar adanya. Namun, bagaimana sikap dan respons kita terhadap anugerah umum?
Anugerah umum diberikan untuk semua orang, baik untuk orang Kristen maupun non-Kristen. Orang Kristen diberikan kemampuan intelektual yang baik dan orang atheis pun juga diberikan kemampuan intelektual yang baik juga. Bahkan, banyak juga orang yang tidak mengenal Allah yang sejati justru lebih pintar daripada orang-orang Kristen. Orang Kristen diberikan berbagai macam talenta oleh Tuhan dan orang dunia pun juga sama. Orang Kristen diberikan kesempatan untuk menikmati alam yang indah dan orang dari agama lain pun juga sama. Dengan demikian, kita cenderung berpikir demikian: karena anugerah umum sangatlah umum, maka memang sewajarnya demikian. Kita menganggap itu adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, padahal anugerah umum tetaplah anugerah. Kita cenderung berpikir, “Ya memang normal matahari terbit setiap pagi untuk menyambut hari yang baru” atau “Ya memang sudah sewajarnya pemerintah ada untuk melindungi rakyatnya”. Sesungguhnya kita salah total ketika berpikir seperti demikian karena yang sewajarnya kita dapatkan bukanlah matahari terbit setiap hari, melainkan adalah murka Tuhan!
Yang manusia berdosa layak dapatkan hanyalah murka Tuhan. Jadi ketika kita menerima segala kebaikan seperti yang kita nikmati hari ini, itu semua boleh ada bukan by default. Itu semua boleh dinikmati karena Tuhan masih memberikan anugerah umum-Nya. Jikalau tidak ada anugerah umum, maka kejahatan yang ada di dunia ini menjadi kejahatan yang sejahat-jahatnya. Saking jahatnya mungkin kita sampai tidak bisa membayangkannya karena itu belum pernah terjadi. Dengan demikian, Tuhan yang baik masih memberikan anugerah umum untuk mengekang kejahatan agar bumi ini masih dapat dihidupi dan hidup masih dapat dinikmati.
Kesalahan dalam melihat anugerah umum sesungguhnya menjadikan kita orang Kristen yang tidak bertanggung jawab. Maka tidak heran banyak sekali kebaikan Tuhan yang kita gagal respons dengan benar; ketika pemuda Kristen masih diberikan kemampuan berpikir untuk mengerti kebenaran, perkuliahan malah dijalankan dengan asal-asalan; ketika orang Kristen diberikan waktu luang, waktu tersebut malah digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna; ketika orang Kristen diberikan seorang pemimpin untuk kebaikan mereka, yang mereka lakukan hanyalah menghina, mengkritik (padahal mereka tidak benar-benar tahu apa yang mereka kritik), dan tidak pernah mendoakan pemimpin mereka. Sekali lagi, bisa berkuliah, bisa menikmati waktu luang, dan bisa mempunyai seorang pemimpin bukanlah sesuatu yang by default harus ada. Mereka boleh ada hanya karena Tuhan yang berbelaskasihan kepada kita, sehingga Dia masih memberikan anugerah umum-Nya. Common grace is still grace! Lantas, bagaimana seharusnya kita hidup? (SI)