Cuma “Cadangan”

Christian Life

Cuma “Cadangan”

4 September 2017

Bacaan: Hosea 2:6-7

Setiap orang itu punya kebiasaan yang berbeda-beda. Salah satunya, ada orang yang punya kebiasaan selalu menyiapkan cadangan. Apa pun yang ia kerjakan, ia pasti menyiapkan back-up. Bekerja sama dengan orang seperti ini sepertinya sangat menenangkan. Kita tidak perlu khawatir kalau terjadi sesuatu di luar dugaan, karena ia selalu berpikir selangkah lebih jauh – ia selalu punya cadangan. Tapi kebiasaan ini bisa jadi masalah kalau sampai dibawa-bawa ke dalam relasi antarmanusia.

Di bulan Februari, bulan penuh cinta ini, sering kali menjadi kesempatan bagi seseorang untuk “menembak”, alias mengajak si doi untuk pacaran atau bahkan menikah. Tapi namanya juga “nembak”, pasti ada risiko ditolak dong. Kalau bagi orang yang selalu menyiapkan cadangan (termasuk dalam hal ini), ini bukan suatu masalah besar, karena dari sebelum menyatakan cinta, ia sudah “membidik” banyak cinta. Jadi kalau “target” utama gak sesuai harapan kita, tenang saja, kita masih punya “target” yang lain. “Cadangan” masih banyak kok…

Hati-hati saja… Jangan-jangan sikap seperti ini sadar tidak sadar kita bawa-bawa juga ke dalam relasi dengan Tuhan. Alkitab menunjukkan bahwa relasi manusia dengan Tuhannya itu begitu intim. Kita sering mengatakan Tuhan itu nomor satu, yang lain belakangan. Kalau begitu, apa bedanya dengan orang yang memiliki banyak “cadangan” – “cadangan” utama dan “cadangan” lainnya? Ketika kita tidak merasa puas dengan Tuhan alias “cadangan” utama kita, kita dengan sigapnya mencari kepuasan kepada ilah-ilah lain, entah itu uang, kuasa, perawakan, dan lain-lain. Begitu pula halnya dengan bangsa Israel yang terus menjadikan Allah sebagai salah satu “cadangan” mereka untuk memuaskan keinginan mereka sendiri. Jadi sebenarnya siapa satu-satunya yang kita cintai? Tuhan atau diri yang harus dipuaskan ini? Mari sekali lagi kita merenungkan kembali: cinta kita kepada Tuhan, cinta yang seperti apa? Satu-satunya atau salah satu saja? (LS)