Di Balik Kematian Orang-orang yang Mencintai Tuhan

Devotion

Di Balik Kematian Orang-orang yang Mencintai Tuhan

8 February 2021

Bacaan: Mazmur 116:15
Kematian memang menyedihkan. Tak peduli seberapa besar kita berusaha menghibur diri, kesedihan akan selalu menjadi fakta yang hadir di sana. Kematian akan selalu menjadi momok yang menakutkan, dan tak jarang menyesakkan; apalagi ketika ia menghampiri orang-orang yang kita kasihi. Kematian dari orang-orang yang berarti seperti orang tua, pasangan, maupun anak, biasanya begitu menggoncang batin.
Namun masih ada kematian yang sering kali lalu dari pergolakan batin kita, yaitu kematian dari orang-orang yang mengasihi Tuhan. Kematian dari orang-orang yang mencintai Tuhan, atau kematian dari para hamba Tuhan yang giat melayani Tuhan biasanya hampir tidak pernah menjadi concern kita. Alasannya sederhana, karena mereka dirasa jauh dari kehidupan kita.
Pertanyaannya, haruskah kita bersedih atas kematian dari orang-orang yang mengasihi Tuhan? Saya percaya harus. Sebab Kristus pernah menyatakan, siapakah keluarga kita yang sesungguhnya jikalau bukan mereka yang melakukan kehendak Bapa yang di sorga? Melalui kehadiran merekalah Tuhan mendidik umat-Nya, dan melalui mereka pula Tuhan menggenapkan pekerjaan-Nya.
Tetapi apa yang harus kita sedihkan? Bukankah mereka sudah bersama dengan Tuhan? Betul, memang bukan mereka yang harus kita tangisi, melainkan diri kita sendiri beserta dunia ini. Kita yang tak setia, yang hanya bisa mengagumi tanpa mau meneladani. Kita sering kali kagum kepada orang-orang yang berani menyerahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan. Tetapi, apakah kita bersedia untuk menyusuri jalan yang sama dengan mereka? “Nanti dulu, itu kan dia, “panggilan” saya berbeda.” Demikian biasanya jawaban kita.
Pada akhirnya kita, bersama dengan orang banyak, akan selalu hanya sanggup mengingat pada pernyataan Rasul Paulus dan mengutipnya. Bahwa orang-orang itu telah mengakhiri pertandingan dengan baik, telah mencapai garis akhir, dan telah memelihara iman. Namun, di balik kematian dari setiap orang yang mencintai Tuhan akan selalu ada pertanyaan yang ditujukan kepada kita. Dari manakah kita mengucapkan kalimat tersebut? Dari dalam lapangan pertandingan yang sama dengan mereka? Ataukah kita akan mengucapkannya, dengan penuh semangat dan gairah tentunya, namun dari deretan kursi penonton?
Kalau sudah begini, apa yang akan kita jawab? “Sorry Tuhan, itu kan dia. Panggilan saya berbeda.” “Halah, prettt”, mungkin balas Tuhan sambil melemparkan api dari sorga. (NT)