Di Manakah Hatimu?

Christian Life

Di Manakah Hatimu?

23 August 2021

Bacaan: Kejadian 19:12-28

Kisah istri Lot menjadi tiang garam, adalah kisah yang tidak asing lagi bagi kita. Kisah ini merupakan kisah satu-satunya yang pernah terjadi dan tidak pernah terjadi lagi sampai hari ini. Kisah istri Lot menjadi tiang garam adalah suatu kisah yang sesungguhnya menjadi suatu teguran dan peringatan dari Allah bagi manusia. Salah satu dari beberapa hal yang kita bisa ambil hikmat dari teguran tersebut adalah tentang keberadaan hati kita.

Kisah istri Lot menjadi tiang garam adalah secuplik kisah yang dimulai dari bagaimana Allah merencanakan pembebasan Lot dan keluarganya (istri dan kedua anak perempuannya) dari hukuman Allah kepada Sodom dan Gomora, kota di mana Lot dan keluarganya tinggal setelah berpisah dari Abraham, pamannya. Allah mengutus kedua malaikat-Nya untuk memberitahukan rencana Allah tersebut kepada Lot. Mereka disuruh untuk segera melarikan diri keluar dari Sodom dan Gomora dan tidak boleh menoleh ke belakang. Saat mereka berlambat-lambat, malaikat lalu menarik tangan mereka untuk segera lari. Namun istri Lot menoleh ke belakang, melihat ke arah Sodom dan Gomora yang mulai dihancurkan Allah dengan hujan belerang dan api panas. Segera ia kemudian dihukum Allah menjadi tiang garam. Apa yang kita bisa pelajari dari tolehan istri Lot ini? Dia ikut serta melarikan diri keluar dari Sodom dan Gomora bersama dengan suaminya, Lot, dan kedua anak perempuannya, namun hati dia tertinggal di Sodom dan Gomora. Istri Lot memikirkan tentang kesenangan dunia yang ditinggalkannya. Di Sodom dan Gomora ada gemerlapan dunia, ada kehidupan yang sebebas-bebasnya, ada kenyamanan dunia dan pelampiasan hawa nafsu, ada berbagai kehidupan yang melawan Tuhan dan tanpa rasa takut kepada Tuhan. Keberanian istri Lot menoleh ke belakang saja sudah menunjukkan ia berani melawan perintah Tuhan untuk jangan menoleh ke belakang.

Menolehnya istri Lot ke belakang menunjukkan hatinya yang masih terpikat kepada kehidupan lamanya. Kebebasan sejati yang Allah berikan kepadanya tidaklah menjadi keterpikatan baginya. Meskipun ia dibawa lari keluar dari hukuman Sodom dan Gomora namun hati dia tertinggal di Sodom dan Gomora. Bagaimana dengan kita hari ini? Saat kita pelayanan, di manakah hati kita? Saat kita beribadah, di manakah hati kita? Saat kita bersekutu, di manakah hati kita? Saat kita melakukan segala sesuatu, di manakah hati kita? Tertuju kepada apakah hati kita? (DS)