Doktrin dan Pengajaran, Masih Pentingkah?

Christian Life

Doktrin dan Pengajaran, Masih Pentingkah?

2 March 2015

Doktrin? Pengajaran? Masih perlukah semua ini? Masih perlukah orang-orang di dalam gereja sibuk berdebat soal pengajaran mana yang benar dan mana yang salah? Hal-hal tersebut terkesan terlalu ortodox, konvensional, dan kaku, atau terlalu mainstream. Hanya orang-orang yang tidak memiliki kesibukan yang mendesak yang masih mungkin terlibat hal-hal demikian. Pada akhirnya, setelah berbagai perdebatan telah dilakukan, kita cenderung untuk mengambil sikap apatis terhadap satu dengan yang lainnya. Masing-masing dari kita puas dengan apa yang kita anggap benar, dan menolak untuk “ribut” soal doktrin dan pengajaran. Sepanjang kamu tidak menggangu saya, maka saya pun juga tidak akan menggangu kamu. Kita terjebak di dalam sikap apatis terhadap pembelajaran.

Hal-hal yang disebutkan di atas bukankah sering kita dengar? Bahkan mungkin sebagian besar dari kita, tanpa disadari, telah mengambil sikap demikian apatis terhadap pembelajaran doktrinal dari saudara-saudari seiman kita. Pertanyaan dasar dari seluruh dilema di atas adalah, “Seberapa pentingnya sebuah doktrin/pengajaran yang benar di dalam kehidupan kekristenan kita saat ini?” Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat apa yang Alkitab ajarkan.

Alkitab, di dalam kitab Kejadian 2:16-17 memberitahukan kepada kita, bahwa ketika Allah selesai menciptakan manusia, Ia memberikan sebuah perintah, atau mungkin dalam konteks kita sekarang sebuah pengajaran, yang harus manusia taati. Allah menyatakan bahwa buah dari Pohon Pengetahuan yang Baik dan yang Jahat tidaklah untuk dimakan. Tetapi, di dalam Kejadian 3 Alkitab menyatakan bahwa terdapat ajaran yang berbeda yang berasal dari si Jahat, yang adalah kebalikan dari segala sesuatu yang dinyatakan sebagai kebenaran oleh Allah. Di sini kita dapat melihat manusia diperhadapkan kepada dua pilihan, yaitu berpegang pada kebenaran yang Allah beritahukan, atau berpegang kepada apa yang si Jahat katakan. Di sini kita melihat manusia memilih untuk mengikuti ajakan si Jahat dan berpaling dari Allah.

Di dalam Perjanjian Baru, kita juga melihat bagaimana Rasul Paulus dengan tegas memberikan sebuah peringatan kepada jemaat di Galatia untuk berhati-hati kepada orang-orang yang memutarbalikkan Injil, atau mengabarkan Injil yang berbeda dengan apa yang pernah ia beritakan.
Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. (Gal. 1:8)
Paulus juga begitu memperhatikan kemurnian pengajaran daripada anak didiknya, Timotius. Karena di dalam pengajarannya, dia akan “menyelamatkan” bukan hanya dirinya namun juga orang-orang yang mendengarnya. Hal ini dapat kita lihat di dalam I Timotius 4:16:
Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Dari pemaparan Alkitab di atas kita dapat melihat betapa pentingnya seorang manusia untuk dapat membedakan apa yang benar dari yang salah. Hal ini sedemikian krusialnya, hingga dapat menentukan arah perjalanan seluruh umat manusia sampai generasi-generasi berikutnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika kebenaran dan kebohongan diperhadapkan satu dengan yang lain, akan terjadi sebuah benturan. Di tengah-tengah benturan inilah kita harus memilih salah satu di antara kedua hal tersebut. Kesalahan di dalam memilih akan mendatangkan maut bukan hanya bagi kehidupan kita, namun juga kepada kehidupan orang-orang yang bersentuhan dengan kita.

Bagaimana dengan kita hari ini? Kita hidup di dalam zaman yang penuh dengan kerelatifan, yang sering kali disebut dengan nama “Zaman Postmodern”. Sejak dahulu, filsafat dan cara pandang dunia yang rusak dapat dengan mudah dan cepat memasuki kehidupan manusia; dan tidak terkecuali kehidupan gerejawi di dalamnya. Di Abad ke 21 ini, jika Umat Kristen tidak berhati-hati, jika pemuda/i Kristen tidak sadar, maka kita pun juga akan dengan mudah terpengaruh oleh cara pandang dari dunia. Jika hal demikian terjadi, pola pandang Iman Kristen tidak akan dapat dibedakan dengan dunia di sekitarnya; kita akan ditelan oleh pola pandang dunia dan menjadi serupa dengan dunia.

Akhir kata, doktrin dan pengajaran bukanlah soal siapa yang menang atau kalah dalam sebuah perdebatan doktrin. Ini juga bukan soal kebenaranmu dan kebenaranku, atau soal ada atau tidak adanya kesibukan. Doktrin dan pengajaran adalah bentuk dasar dari hidup yang bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Mari kita dengan satu kerendahan hati, belajar akan kebenaran yang Tuhan telah bukakan di dalam firman-Nya. Belajar akan prinsip-prinsip dan penelaahannya melalui pergumulan Bapa-Bapa Gereja, para Reformator, ataupun para Theolog yang telah menghidupi hidupnya dengan bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Mari kita belajar untuk hidup dengan benar dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan. [S]