Konsep yang Salah Mengenai Dosa

Dosa dan Keterhilangan (Part 2/5)

Konsep yang Salah Mengenai Dosa

7 November 2014

Meskipun manusia mencoba untuk lari dari fakta dosa, mengencerkan, dan bahkan menafsirkan ulang dosa, manusia tetap tidak akan pernah dapat melarikan diri dari pernyataan Allah mengenai dosa dalam Alkitab. Alkitab mengajarkan dengan jelas bahwa dosa dimulai dari kejatuhan Adam yang historis, manusia pertama dan wakil dari umat manusia, dan yang kemudian masuk ke dunia. Sebelum kita berpikir mengenai apa itu dosa, pertama-tama mari kita melihat konsep yang keliru mengenai dosa.

1. Dosa bukanlah sebuah keberadaan

Alkitab tidak memberikan tempat bagi konsep pra-eksistensi kekal dari dosa. Dosa bukan suatu keberadaan kekal yang ada dengan sendirinya. Baik dosa maupun kejahatan juga bukan realitas yang berdiri sendiri. Demikian juga Iblis dan kuasa-kuasa kejahatan. Tidak ada apa pun dan siapa pun selain Allah sendiri yang ada dari diri-Nya sendiri dan merupakan realitas yang kekal. Hanya Allah yang tanpa awal dan akhir. Alkitab jelas menolak ontologi dualisme  dalam agama.

2. Dosa tidak diciptakan

Alkitab tidak memberikan tempat bagi pengertian bahwa dosa diciptakan atau bersumber dari Allah. Kata “kejahatan” dalam Yesaya 45:7 harus dimengerti sebagai hukuman dari Allah dalam sejarah, sebagai manifestasi dari kebenaran dan kedaulatan-Nya pada dunia yang berdosa, tetapi bukan kejahatan secara ontologi ataupun moral.

3. Allah bukan penanggung jawab dosa

Alkitab juga tidak memberi tempat bagi pandangan bahwa Allah bertanggung jawab atas dosa. Mengenai hal ini, satu hal yang dapat kita lihat dari Alkitab adalah izin yang misterius bagi munculnya kejahatan sebagai akibat dari penyalahgunaan kebebasan di dalam makhluk-makhluk rohani, yang diciptakan Allah yang juga menjadi aspek dari gambar dan rupa Allah dan juga fondasi penting bagi moralitas, yang harus dipertanggungjawabkan pada keadilan dan penghakiman Allah.

Dengan demikian, dosa muncul dari para ciptaan sendiri. Dosa merupakan ciptaan dari makhluk yang dicipta untuk melawan Penciptanya. Dalam hal ini, Yesus berkata, “Apabila ia [iblis] berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta” (Yohanes 8:44).


Disadur dari Khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong, tahun 1989 pada acara Laussane Congress di Manila