Garam dan Terang

Christian Life

Garam dan Terang

27 January 2020

Garam dan terang adalah dua entitas yang ketika dijumpai, dapat langsung dirasakan keberadaannya. Pernahkah kita makan kentang goreng tanpa garam? Pasti rasanya tidak enak. Tetapi coba ditambahkan sedikit garam di atas kentang goreng itu, pasti rasanya langsung beda. Keasinan dari garam yang sedikit ini bisa memberikan rasa bagi kentang goreng secara keseluruhan, dan kentang goreng itu tidak dapat kembali tawar. Demikian juga dengan terang. Ketika kita bangun di pagi hari, terang yang bersinar dapat langsung dirasakan oleh kita. Kita tidak dapat berkata, “Stop cahaya! Kamu tidak boleh masuk ke mata saya!” Kita akan terus merasakan sinar terang itu di mana pun dia berada.

Tuhan mengatakan bahwa orang Kristen adalah garam dan terang dunia. Tentunya kita sangat sering mendengar kalimat ini, tetapi apakah kita benar-benar telah hidup sebagai garam dan terang bagi sesama kita? Ada beberapa poin yang dapat kita perhatikan dari garam dan terang. Pertama, garam hanya akan menjadi garam bila dia asin. Garam yang tidak asin tidak berguna. Menariknya, bentuk garam zaman dahulu tidak halus seperti zaman sekarang. Bentuknya berupa batu yang lumayan besar. Maka ketika garam sudah tidak asin, dia hanya akan menjadi batu yang tidak berguna. Kita sebagai orang Kristen sering beribadah dan melayani di gereja. Tetapi jikalau hanya sebatas bergereja dan pelayanan yang tidak memberikan rasa kepada sesama, maka kita seperti batu garam yang tidak asin. Kita terlihat seperti orang Kristen yang baik, tetapi pada kenyataannya tidak. Kedua, garam tidak perlu dikirim ke tengah-tengah garam untuk mengasini garam lainnya, melainkan ditabur di makanan lain. Demikian juga keberadaan orang Kristen di dunia ini adalah untuk memengaruhi segala aspek kehidupan. Orang Kristen harus me-redeem pengetahuan dan kebudayaan di dunia yang makin merosot. Tanggung jawab kita sebagai orang Kristen bukan hanya di dalam pelayanan gerejawi, tetapi juga di dalam pekerjaan atau studi kita.

Di sisi lain, Tuhan juga mengatakan orang Kristen adalah terang. Pertama, terang sanggup menelan kegelapan. Sama halnya dengan hidup kita. Ketika hidup kita penuh dengan kebenaran Tuhan, maka kebenaran itu akan terpancarkan keluar dan memengaruhi ketidakbenaran yang ada di sekitar.  Kedua, terang itu tidak dapat bersatu dengan kegelapan. Kehidupan orang Kristen pun harusnya beda dengan kehidupan dunia. Apa yang kita prioritaskan dan apa yang kita cintai tidak sama dengan apa yang dunia cintai. Tetapi pada kenyataannya, bukankah sering kita juga merindukan apa yang dunia tawarkan? Kita sering gagal melihat keindahan yang ada di dalam kehidupan Kristen. Maka di sini dibutuhkan suatu kerendahan hati untuk memohon kepada Tuhan akan anugerah-Nya untuk mencelikkan mata kita agar dapat melihat kemuliaan-Nya. Sebagai terang kita wajib memancarkan kemuliaan-Nya dalam hidup kita.

Manusia diutus sebagai wakil Allah sebagai garam dan terang dunia. Garam dan terang harus memberikan rasa kepada sekelilingnya, rasa yang membangun atau menggelisahkan hati orang. Ketika terang bertemu dengan terang, dia akan saling membangun menjadi terang yang lebih besar lagi. Namun ketika terang bertemu dengan kegelapan, kegelapan itu pun akan menyingkir. Sama halnya ketika kebenaran dapat bersatu dan saling membangun, atau ketika kebenaran itu menggelisahkan hati orang lain agar mereka bertobat. Jika kehidupan ini tidak dapat mengeluarkan rasa membangun atau menggelisahkan, dan jika keberadaan kita sama sekali tidak dapat dirasakan oleh orang lain, hanya lalu-lalang saja, maka kehidupan menjadi tidak berguna dan tidak bermakna. Mari kita bersama-sama merefleksikan kembali apakah kita sudah hidup sebagai garam dan terang dunia, yang di mana kita berada, kita menggelisahkan atau membangun orang lain.  [HS]