Hamba Allah

Devotion

Hamba Allah

16 August 2021

Bacaan: Lukas 17:7-10

Banyak keluarga di kota besar memiliki seorang asisten rumah tangga, atau yang dahulu disebut sebagai pembantu. Seorang asisten rumah tangga memiliki pekerjaan yang beragam tergantung dari apa yang majikannya perintahkan, mulai dari membersihkan rumah sampai merapikan pakaian. Semuanya dilakukan karena ada kontrak kerja di mana majikannya harus membayar upah sesuai dengan yang dijanjikan. Begitu ia tidak lagi dibayar, ia tidak lagi perlu melakukan  pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Di dalam sebuah rumah tangga, ada perbedaan yang mencolok antara seorang asisten rumah tangga dengan pemilik rumah. Seorang ART hanya bertugas membantu pemilik rumah saja, tidak lebih dari itu, maka rasa kepemilikan atas rumah tangga itu menjadi hal yang aneh. Berbeda dengan pemilik rumah, sebagai pemilik sudah seharusnya ia memiliki tanggung jawab dan rasa kepemilikan yang lebih besar. Hal ini tercermin di dalam saat-saat genting? Misalnya saja, rumah itu kemasukan maling. Ketika momen mengerikan itu terjadi, seorang ART tidak wajib dan tidak harus membela mati-matian, karena itu bukan lagi ranah yang dia tanggung, namun seorang pemilik pasti akan membela mati-matian rumah itu karena itu adalah rumahnya. Pemilik akan berusaha sekuat tenaga dan pikirannya, agar maling itu bisa ditangkap dan dia tidak menderita kerugian karenanya.

Perbedaan ini dapat menolong kita untuk sadar akan peran kita dalam setiap pekerjaan Tuhan. Sering kali saat mengerjakan pekerjaan Tuhan, banyak dari kita yang cenderung berlaku seperti penolong. Saat kita merasa bisa melakukan pekerjaan itu, kita bisa begitu sukarela mengerjakannya. Namun saat tidak merasa bisa, atau saat merasa itu akan menyulitkan kita, kita akan cenderung mengabaikan hal tersebut. Padahal di dalam Kerajaan Allah, setiap kita bukanlah sekadar seorang ART atau penolong di dalam setiap pekerjaan Tuhan. Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan, “No one comes to help. No one comes to contribute.”

Apakah kalau begitu kita adalah pemilik Kerajaan Allah? Ya dan tidak. Alkitab mengatakan kita adalah pewaris Kerajaan Allah sekaligus hamba Allah. Allah yang empunya kerajaan rela untuk membagikan kerajaan itu kepada kita sebagai pewaris-pewaris kerajaan tersebut. Maka sudah seharusnya kita bekerja dan menaruh hidup kita di dalam pekerjaan Allah. Namun Alkitab juga menyatakan kita adalah seorang hamba, bukan pengerja upahan. Kita bukan penolong Tuhan. Kita semua hanyalah hamba, bukan penolong yang ketika mendapatkan keuntungan baru kita bergerak, bukan juga pengontribusi, yang saat pekerjaannya mudah baru mengerjakan. Kita ini hamba-hamba Tuhan, yang hanya mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Pengertian yang benar atas diri kita sebagai pewaris kerajaan dan hamba Allah sekaligus akan membuat kita sadar akan sikap hati kita dan melayani Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap perbuatan. (TH)