Hamba Yang Kurang Ajar

Christian Life

Hamba Yang Kurang Ajar

2 October 2017

Coba bayangkan diri kita sebagai seorang raja yang memimpin sebuah kerajaan yang sangat besar dan mempunyai banyak warga. Lalu suatu hari, salah satu dari warga kita datang kepada kita untuk meminta tolong. Dia bilang ke kita bahwa hidupnya sangat susah dan setiap hari dia menangis, meratapi hidupnya yang penuh kesulitan: keluarga tidak punya, uang tidak punya, tempat tinggal tidak punya, dan makan pun harus mengemis. Maka, sebagai raja yang baik hati dan penuh dengan belas kasihan, kita mau berkomitmen membantu warga kita yang satu ini. Kita menawarkan dia sebuah “pekerjaan”, yaitu menjadi hamba di tempat kediaman kita, sehingga dengan begitu, dia sekarang punya tempat tinggal dan boleh makan secara gratis setiap hari. Sebenarnya sih kita tidak perlu seorang hamba, tetapi kita secara sengaja menjadikan dia hamba karena kita mau menolong dia. Awalnya hamba ini sangat bersyukur karena hidupnya sudah kita topang, tetapi lama-kelamaan setelah kita lihat-lihat lagi, dia menjadi hamba yang tidak bertanggung jawab; pekerjaan istana tidak beres dan barang-barang di istana tidak digunakan dengan hati-hati sehingga banyak yang rusak. Sebagai seorang raja apa perasaan kita? “Wah kurang ajar hambaku yang satu ini, sudah dikasi yang enak sekarang malah semena-mena.”

Sesungguhnya kita adalah hamba seperti itu di hadapan Tuhan, sang Raja. Tuhan sangat berbelas kasihan kepada kita. Dia memberikan kita begitu banyak anugerah, sehingga kita masih boleh menikmati hidup ini. Kita diberikan keluarga, makan dan minum kita masih dicukupkan, masih boleh bersekolah/berkuliah/bekerja, dan masih diberikan banyak kepandaian. Sudah pasti kita bersyukur atas semua anugerah ini, tetapi seiring kita menjalani hidup, kita sering lupa terhadap semua privilege tersebut.

We take too many good things in this life for granted! Kita pikir kita boleh bernapas itu adalah sesuatu yang biasa. Tidak! Kita boleh bernapas pun karena Tuhan yang memberikan kita hidup sampai detik ini. Namun, bukankah hidup yang Tuhan berikan ini sering kali kita gunakan sesuka hati kita sendiri? Sama seperti seorang hamba di atas yang menggunakan barang-barang raja dengan tidak hati-hati dan merusakkannya. Kita juga sebagai anak-anak Tuhan sudah terlalu sering menggunakan anugerah Tuhan dengan tidak bertanggung jawab. Inilah dosa!

Yang membuat dosa begitu jahat adalah ketika kita melacurkan karunia-karunia yang begitu besar dan baik ini. Sampai kapan kita mau melakukan hal seperti ini? Ingat, perusakan terhadap yang terbaik (yaitu anugerah Allah) adalah hal yang terburuk dalam hidup di hadapan Tuhan. Mari dengan takut dan gentar, kita mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang Tuhan berikan di hidup ini. [IT]