Harga yang Harus Dibayar

Christian Life

Harga yang Harus Dibayar

4 May 2020

Dalam sebuah buku yang berjudul “Quo Vadis” karya Henryk Adam Aleksander Pius Sienkiewicz, diceritakan bagaimana para bangsawan Romawi di bawah pemerintahan Nero hidup dengan mewah dan nyaman saat itu, sedangkan orang-orang Kristen dibantai dan dianiaya. Buku ini mengisahkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk menjadi orang Kristen pada zaman tersebut. Berbeda dengan hari ini, kita hidup bebas beragama namun ironisnya hal itu membuat kita lupa akan berapa harga yang harus dibayar untuk menjadi orang Kristen. Hidup kita sebagai orang Kristen sering kali tidak ada bedanya dengan hidup orang non-Kristen, bahkan mungkin lebih buruk. Untuk itu, kita harus kembali memikirkan ulang bagaimana kita seharusnya hidup sebagai orang Kristen.

Pertama-tama kita akan melihat melalui teladan Kristus selama pelayanan-Nya di dalam dunia. Kristus selama pelayanan-Nya tidak pernah sekali pun mengompromikan integritas-Nya sebagai Sang Kebenaran itu sendiri. Ia bahkan tidak bersikap “ramah” terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi karena kemunafikan mereka (Mat. 23:27-29). Perlu dicatat bahwa sikap baik dan ramah bukanlah sikap yang tidak benar, tetapi bagaimana mungkin Kristus, Sang Kebenaran (Sang Anak Allah) itu sendiri mengompromikan kebenaran dan kesucian-Nya demi penerimaan dari orang-orang ini? Integritas Kristus sebagai Anak Allah dan Kebenaran itu sendiri menjadi pedang yang menusuk hati manusia berdosa. Itu sebabnya Ia dibenci dan disalibkan.

Sayangnya gereja-gereja zaman postmodern hari ini, karena bertumbuh dalam pengaruh liberal, mereka melihat Kristus sebagai sosok yang baik hati, lemah lembut, dan penyayang saja. Bukan hanya itu, masyarakat pada hari ini pun menuntut para pengikut Kristus untuk menunjukkan sikap lemah lembut, baik hati, menyenangkan, dan pemaaf karena mereka melihat Kristus sebagai sosok yang “baik” dan “ramah” saja. Jika itu fokusnya maka tidak ada bedanya orang Kristen dengan orang-orang “baik” non-Kristen di dunia ini.

Kedua, konsekuensi logis dari mengikut Kristus adalah ditolak oleh dunia ini. Sebab ketaatan kepada Kristus adalah ketidaktaatan kepada dunia ini. Maksud dari pernyataan ini bukan berarti orang Kristen harus membenci dunia, melainkan ketaatan kepada Kristus berarti menyangkal dirinya dan memikul salibnya (Mat. 16:24). Sukacita yang lebih besar terletak setelah seseorang mengikut Yesus, yaitu pada janji bahwa Ia akan menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat. 28:20). Janji dan pengharapan itulah yang menjadi kekuatan bagi semua umat percaya untuk bersaksi bagi Kristus walaupun ditertawakan, dihina, ataupun ditolak oleh dunia. Pengharapan yang dianugerahkan Tuhan ketika manusia dan Allah diperdamaikan melalui Kristus adalah satu-satunya kekuatan bagi orang Kristen untuk senantiasa bertekun dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini. Sebab pengharapan kita adalah pengharapan yang melampaui kesementaraan.

Itu sebabnya, fokus menjadi orang Kristen tidak terletak pada seberapa besar sengsara yang kita alami di dunia ini. Fokus menjadi orang Kristen adalah seberapa besar kita mengerti nilai yang kita percaya, yaitu Kristus yang rela mati dan bangkit bagi kita orang berdosa, sehingga kita boleh diperdamaikan dengan Allah serta dilayakkan untuk hidup meneladani, menyatakan, dan memuliakan-Nya. Amin. (LN)