HIDUP untuk KERJA atau KERJA untuk HIDUP?

Short Articles

HIDUP untuk KERJA atau KERJA untuk HIDUP?

15 October 2018

Suatu ketika jam 11 malam saya naik kereta api, saya tiba-tiba tersadar, sementara di rumah-rumah banyak orang sudah tidur dengan nyenyaknya, masih saja ada orang yang sedang bekerja hingga larut malam untuk sesuap nasi. Saat kereta api berhenti di sebuah stasiun dalam keheningan malam, ketika orang-orang sedang ngorok dalam tidurnya, kembali saya melihat masih ada orang berdagang untuk sesuap nasi. Ketika kereta sampai ke tujuan di pagi yang masih gelap, juga tetap terlihat ada orang yang bekerja untuk sesuap nasi. Saat perjalanan saya menuju kantor, di kiri kanan jalan, tampak orang sibuk berjuang keras dalam hidup ini untuk sesuap nasi. Bahkan saya menyaksikan dengan sebuah motor roda dua, seorang bapak berani mempertaruhkan nyawanya dengan mengangkut barang dagangannya bertumpuk-tumpuk di belakang kursi motornya (yang kalau ditaruh di sebuah mobil berukuran sedang, belum tentu mobil tersebut muat), demi sesuap nasi. Silakan menguraikan sendiri peristiwa yang kita masing-masing saksikan dan mungkin yang memang kita alami setiap harinya. Hidup ini hanyalah sekadar sebuah perjuangan demi sesuap nasi.

Sebenarnya untuk apakah hidup ini? Untuk apa manusia lahir, menjadi dewasa, dan menjadi tua? Mengapa harus berjuang untuk mempertahankan hidup ini? Ada apa dengan hidup ini? Bahkan demi sesuap nasi untuk mempertahankan hidup ini, manusia bisa saling membunuh. Bekerja bukan lagi suatu yang dinikmati melainkan telah menjadi tuan atas kita demi sesuap nasi dan tentu saja juga demi kenyamanan hidup. Manusia bukan lagi mampu mengendalikan apa yang harus dikerjakannya tetapi menaruh diri untuk dikendalikan oleh kerja demi untuk bisa hidup dan memiliki impian hidup sesuai dengan keinginannya.

Apakah yang dikatakan Alkitab tentang kerja dan hidup manusia? Dalam Kejadian 1:28 jelas diberi tahu bahwa manusia diciptakan dengan hidup untuk bekerja.  Bukan hanya bekerja, tetapi bekerja sesuai dengan kehendak Allah dan bagi kemuliaan Allah. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, kehidupan dan kerja seperti yang diinginkan Allah dalam Kejadian 1:28 tidak dapat dikerjakan lagi oleh manusia. Manusia hidup lalu bekerja dengan susah payah untuk mempertahankan hidup. Namun semua itu menjadi sia-sia, karena kematian akan menjemputnya, bukan hanya sekadar kematian sementara, tetapi juga kematian kekal (Kej. 3:18-19).

Jadi bagaimanakah seharusnya kita merespons hidup ini? Betul, dosa sudah menghancurkan semua sendi kehidupan manusia. Tetapi Kristus Sang Juru Selamat itu telah datang menebus kita dari belenggu dosa supaya kita dimampukan untuk bebas hidup dan bukan dibelenggu oleh kerja yang sia-sia. Bebas hidup dengan merespons hidup ini sesuai dengan pimpinan dan kehendak Tuhan.  Sebagai orang yang sudah menerima jaminan kehidupan kekal melalui penebusan Kristus, kita tidak lagi bekerja demi untuk mendapatkan hidup, melainkan kita merespons hidup yang masih diberikan ini dengan bekerja berdasarkan kehendak-Nya dan bagi kemuliaan-Nya. Kerja bukan lagi suatu beban berat yang menimpa hidup ini, bukanlah suatu hukuman atau bahkan kutukan, tetapi anugerah besar yang seharusnya kita merespons dengan penuh ucapan syukur. Kerja bukan lagi menjadi tuan atas hidup kita, tetapi kita yang menjadi tuan atas kerja tersebut, yang terus kita arahkan kepada pimpinan dan kehendak-Nya. [DS]