How Sweet It Is

Christian Life

How Sweet It Is

19 February 2018

Matius 22:37-40

Hari kasih sayang, atau yang lebih kita kenal dengan Valentine’s day, telah menjadi hari di mana sebagian besar orang mencoba mengutarakan kasihnya kepada orang terkasih. Mendekati hari H, nuansa-nuansa romantis juga terasa begitu kental. Coklat dan bunga–sesuatu yang identik dengan tanda kasih sayang–telah menjadi ornamen yang menghiasi hari spesial ini.

Di tengah kesibukan mempersiapkan segalanya bagi orang terkasih, apakah kita ingat akan Dia yang mengasihi kita dengan kasih yang sempurna, bahkan jauh sebelum kita mengasihi-Nya? Apakah kita memikirkan kasih seperti apa yang seharusnya kita jalankan kepada Tuhan dan sesama kita di hari “kasih sayang”?

Ayat ini mungkin sangat familiar di telinga kita, bahkan kalimat pertamanya tidak jarang dijadikan kutipan oleh orang-orang Kristen karena mudah diingat dan terdengar “rohani”: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, dan segenap akal budimu.” Hukum kedua yang juga tidak kalah populer, yaitu “mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri sendiri”. Namun pertanyaan yang terpenting adalah: apakah kita telah betul-betul menjalankan kedua perintah utama tersebut?

Sebelum dapat menjawab pertanyaan itu, kita harus menyadari bahwa pada naturnya, manusia berdosa itu EGOIS. Kita tidak bisa mengasihi secara sempurna. Kita mengasihi Allah dan sesama kita pada dasarnya adalah untuk diri kita sendiri. Apa maksudnya? Kita mengasihi Allah karena kita sebenarnya demi diri kita sendiri dan bukan demi mengasihi pribadi Allah. Bukankah sakit rasanya ketika kita mengetahui bahwa orang yang kita cintai ternyata mengasihi kita karena ia hanya menginginkan sesuatu bagi dirinya sendiri, dan tidak benar-benar mengasihi pribadi kita? Tepat! Perasaan itulah yang Allah tanggung ketika Dia mengasihi kita. Kita mengasihi-Nya karena kita takut sakit, takut tidak diberkati, atau lebih ekstremnya, takut masuk neraka.

Hanya dengan melihat kepada Kristus saja (yaitu kepada pengorbanan dan kasih sempurna-Nya), kita dapat berkata kepada hati kecil kita: “It is not because of thee that we love the Lord, but we have tasted ourselves, and found how sweet He is” (St. Bernard of Clairvaux).

Ketika kita melihat Kristus dan pengorbanan-Nya, Roh Kudus bekerja dalam hati kita sehingga kita dapat merasakan betapa Mahabaiknya dan Mahakasihnya Allah kita. Kemudian barulah kita dapat mengasihi pribadi-Nya dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Kita mengasihi Dia bukan karena Dia sudah baik kepada kita, tetapi karena Dia baik adanya.

Saat kita mengerti, melihat, dan merasakan betapa Mahabaiknya dan Mahakasihnya Allah, kita baru bisa mengasihi, mendahulukan, dan bahkan memberikan nyawa bagi sesama kita. Ketika kita melihat bahwa Kristus–yang adalah role model kita–telah mengasihi dan berkorban bagi kita tanpa syarat, barulah kita dapat mengasihi sesama dengan benar. Inilah yang dimaksud dengan “mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri”.

Tanpa mengenal Kristus, sesungguhnya kita tidak pernah berhasil menjalankan kedua perintah terbesar ini. “Kasih” yang dahulu kita nyatakan bagi Tuhan dan sesama adalah kasih yang palsu dan sia-sia di hadapan-Nya.

How sweet it is, jika kita dapat terus melihat kepada kasih Kristus, semakin mengenal dan merasakan kasih-Nya, serta membagikan kasih itu kepada semua orang dalam memperingati hari kasih sayang ini. (ET)

Referensi:
On Loving God. St. Bernard of Clairvaux.