Hutang Injil di Tanah Toraja

Antonie Aris van de Loosdrecht (1885-1917)

Hutang Injil di Tanah Toraja

20 September 2014

Antonie Aris van de Loosdrecht

Baru saja menikah satu bulan, pada tanggal 7 Agustus 1913, Antonie Aris van de Loosdrecht dan Alida Petronella Sizoo diutus oleh Gereformeerde Zendingsbond (GZB) sebagai misionaris di tengah masyarakat Tanah Toraja, sebuah tempat yang jauh, terpencil, dan bahaya, karena penduduk asli yang saat itu masih sering mengadakan perburuan terhadap manusia. Anton dan Ida, demikian nama panggilan mereka, menumpang kereta api dari Rotterdam menuju Genoa, Italia pada tanggal 5 September 1913 dan dilanjutkan dengan perjalanan laut menumpang kapal S. S. Vondel hingga turun di Tanjung Priok pada tanggal 4 Oktober 1913. Mereka tiba di Toraja pada akhir April 1914.

Anton lahir di Veenendaal, Belanda, pada tanggal 21 Maret 1885. Perkenalannya dengan Tanah Toraja, tempat yang dikenal sebagai tanah para raja, berawal dari ketika ia sedang menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Theologi Universitas Heidelberg, Jerman. Dalam suatu kuliah umum di Rotterdam membahas tentang misi baru di Tanah Toraja. Kuliah umum itulah yang mendorong Anton untuk pergi ke Tanah Toraja.

Misi yang akan dijalankannya adalah membangun sekolah bagi anak-anak Toraja meskipun tidak mudah untuk memperkenalkan sesuatu yang baru bagi masyarakat setempat yang kala itu belum tersentuh pendidikan. Banyak kendala yang dihadapi Anton, terutama dari sisi bahasa. Tetapi bagi Anton, kendala merupakan kesempatan baginya. Bersama Dr. Andriani, seorang ahli bahasa yang mendalami bahasa di Sulawesi bagian Tengah, Anton menulis buku bacaan sederhana dalam bahasa Toraja, sementara Alida mengajari para wanita Toraja menjahit. Orang Toraja gemar berkumpul dan mendengar cerita yang disampaikan dengan bahasa yang sederhana, bagi Anton ini merupakan jembatan untuk menyampaikan Injil. Suami-istri ini juga menjadi penasihat perkawinan bagi warga yang mengalami masalah rumah tangga.

Selain bahasa, tantangan besar lainnya dalam penginjilan adalah agama suku dan kasta sosial. Sistim religius masyarakat Toraja disebut Parandangan Ada’ (harfiah: Dasar Ajaran/Peradaban) atau Aluk To Dolo. Aluk To Dolo percaya satu dewa yaitu Puang Matua. Di samping itu dikenal juga Deata (dewa-dewa) yang berdiam di alam, yang dapat mendatangkan kebaikan maupun malapetaka, tergantung perilaku manusia terhadapnya. Perbedaan kasta sangat menonjol di dalam adat Toraja yang diurut dari yang tertinggi yaitu Tana’ Bulaan (Keturunan Raja. Bulaan artinya Emas); Tana’ Bassi (Keturunan bangsawan. Bassi artinya Besi); Tana’ Karurung (Bukan bangsawan, tetapi bukan juga manusia kebanyakan. Karurung adalah sejenis kayu yang keras); dan yang terendah adalah Tana’ Kua-Kua (kua-kua, sejenis kayu yang rapuh). Dalam hubungan dengan upacaraupacara adat, dikenal pula golongan imam (to minaa atau to parenge’) dan manusia awam (to buda).

Pelayanan mereka tidak hanya berpusat di Rantepao, setiap minggu Anton melakukan perjalanan ke beberapa kampung untuk melakukan misi pelayanan dan membuka sekolah baru. Tiga tahun masa pelayanan Anton di Tanah Toraja terhitung singkat sekali. Ia mati karena mata tombak yang menembusi jantungnya pada tanggal 26 Juli 1917 di Bori. Pembunuhnya adalah seorang pria yang bernama Pong Maramba, seorang parenge’ (kepala adat) dari Rantepao yang menjadi sahabat dan dikenal Anton pertama kali di kapal saat perjalanan menuju Palopo. Pong Maramba meminta kepada Anton agar bersedia menjual  istrinya. Ini merupakan budaya yang melihat perempuan sebagai milik laki-laki sehingga dapat diperlakukan semaunya, termasuk dijual. Anton menjadi martir pertama yang mencurahkan darah di Tanah Toraja.

Hutang Injil sudah dibayar! Injil yang bertumbuh dan menjadi dasar terbentuknya Gereja Toraja adalah Injil yang dihiasi dengan darah martir Antonie Aris van de Loosdrecht. Sungguh suatu pelayanan yang tidak akan pernah dapat dibalas oleh masyarakat Tanah Toraja secara umum dan Gereja Toraja secara khusus.

"Jika Yesus hanya menjadi Juruslamatmu dan tidak menjadi Tuhanmu, Dia tak pernah menjadi Juruslamatmu!" (Stephen Tong)