Injil: Bukan Sekadar Slogan

Christian Life

Injil: Bukan Sekadar Slogan

9 November 2020

Penginjilan, kata yang sering kita dengar dan ucapkan, tetapi jarang atau bahkan tidak pernah kita lakukan sama sekali secara langsung. Kita merasa nyaman dengan kekristenan kita yang cukup dengan datang beribadah, dan mengabaikan penginjilan sebagai mandat dari Tuhan. Kita bahkan tidak tahu bagaimana Injil itu harusnya diberitakan. Kebanyakan kita hanya mengerti Injil sebatas keselamatan bagi manusia yang berdosa melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Kita gagal membawa berita ini sebagai kabar baik di tengah permasalahan zaman ini. Tetapi, kita patut bersyukur bahwa di tengah pandemi COVID-19 seperti ini, Gerakan Reformed Injili terus digerakkan oleh Tuhan, seperti melalui Global Convention on Christian Faith and World Evangelization yang diselenggarakan secara daring pada tanggal 1-6 Oktober 2020. Sebuah momen yang menghadirkan 31 pembicara dari dalam maupun luar negeri untuk membicarakan bagaimana iman Kristen dan penginjilan tetap relevan di tengah gejolak yang terjadi di tahun 2020 ini.

Pada salah satu sesi, Pdt. David Tong membahas bagaimana Paulus dengan berani menantang filsafat yang terkenal pada zaman itu. Bukan sekadar Paulus ingin mencari kehebohan, atau memamerkan kepintarannya, tetapi ia sedih dan marah oleh karena penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang Yunani. Paulus sadar bahwa orang Yunani membutuhkan Injil yang sejati supaya dapat beribadah kepada Allah yang benar. Ia mampu melihat celah dan kelemahan dari dua filsafat yang berkembang saat itu, epicureanism dan stoicism. Kedua filsafat ini saling bertolak belakang ketika berbicara mengenai Allah dan relasi-Nya dengan manusia dan alam. Perbedaan yang akhirnya menghasilkan perdebatan yang tidak kunjung selesai hingga membuat orang Yunani sengaja menyiapkan satu kuil khusus bagi Allah yang tidak mereka kenal. Paulus menyadari hal ini dan memakai kelemahan tersebut sebagai jalan masuk untuk Injil, bahwa apa yang mereka sembah, itulah yang Paulus beritakan sebagai Allah yang sejati. Hanya melalui Tuhan Yesus, manusia dapat memahami dirinya dan realitas dengan benar, bukan filsafat-filsafat tersebut.

Inilah semangat penginjilan yang harusnya ada di dalam diri setiap pemuda/i Kristen. Bukan sekadar mengabarkan Injil dengan slogannya yang indah, seolah-olah seperti mantra yang pasti bisa menaklukkan setiap orang. Kita perlu menghadirkan Injil dengan totalitasnya, tanpa mengurangi esensi utamanya, tetapi dapat menjawab tantangan zaman ini. Kita berhadapan dengan agnotisisme yang menganggap Allah boleh ada, boleh tidak, meragukan adanya kebenaran pasti yang dapat dipahami dengan benar. Kita juga berhadapan dengan orang-orang yang mati-matian mengejar ketenaran dan kekayaan di sosial media. Zaman ini terus menggempur kita dengan prinsip bahwa tidak perlu mengejar kebenaran yang sejati, hingga berdebat sana-sini, karena toh semua ada benarnya, semua ada salahnya.

Lalu, di manakah peran pemuda/i Kristen di dalam menegakkan kebenaran dan keselamatan hanya melalui Tuhan Yesus? Maka dari itu, Injil yang kita percayai tidak boleh berhenti sebagai slogan saja, tetapi kita perlu meresapi dan menghidupinya. Memahami Injil sebagai sesuatu yang dapat mengubah keseluruhan cara kita melihat realitas. Di sisi yang lain, kita perlu mengerti apa yang terjadi dengan zaman kita saat ini. Sehingga melalui dua hal inilah kita sungguh-sungguh dapat menjadi pemuda/i Kristen yang berbeda dengan dunia, sekaligus menjadi pembawa pengharapan akan hidup yang seharusnya di hadapan sang Pencipta, sang Penebus, Allah Tritunggal yang Esa. Amin. (TP)