Kekariban Orang yang Memelihara Perjanjian

Devotion

Kekariban Orang yang Memelihara Perjanjian

28 May 2018

Bacaan: Keluaran 33:12

Keluaran pasal 32, 33, dan 34 adalah tiga pasal yang membicarakan perjanjian Tuhan dengan Israel. Keluaran 32 menceritakan perjanjian yang dirusak, di mana Israel menyembah lembu emas, namun Tuhan memperbarui perjanjian dengan memberikan 2 loh batu yang baru di Keluaran 34. Tetapi di antara kedua pasal tersebut, Keluaran 33 menceritakan sebuah kisah kekariban seseorang yang memelihara perjanjian dengan Tuhan.

Keluaran 33 seharusnya menjadi sebuah model hubungan pribadi setiap orang percaya dengan Tuhan. Jika kita menelusuri sepanjang pasal ini, kita akan mendapati betapa dekatnya relasi antara Tuhan dengan Musa. Frase yang terus menerus berulang di dalam pembicaraan mereka adalah “mendapat kasih karunia”, oleh sebab itu kunci utama di dalam relasi kita dengan Tuhan adalah karena kita mendapatkan kasih karunia Tuhan maka kita dapat berhubungan dengan-Nya. Setelah Tuhan menyatakan bahwa Dia memberikan kasih karunia-Nya kepada Musa, maka barulah di dalam relasi ini Musa berani meminta tiga permintaan yang secara berurutan semakin mendalam. Hal ini seharusnya menjadi refleksi kita terkait permohonan apakah yang kita minta kepada Tuhan di dalam relasi kita dengan-Nya.

Pertama, Musa meminta, “Beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu.” Apakah di dalam doa kita kita pernah meminta hal ini kepada Tuhan? Sudah seberapa sungguhkah kita ingin mengetahui jalan Tuhan yaitu dengan membaca firman-Nya? Tidak ada relasi yang dalam tanpa kehidupan membaca Alkitab. Kedua, Musa meminta, “Bimbinglah kami… dari manakah gerangangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu… Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami? ” Apakah selama ini kita masih melangkahkan perjalanan hidup kita sesuka hati kita? Kita seharusnya tidak boleh berani melangkah satu langkah pun jika Tuhan tidak membimbing. Terakhir, Musa meminta, “Perlihatkan kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.” Hal terakhir yang Musa minta adalah kemuliaan Tuhan yakni Tuhan menyerukan nama-Nya kepadanya (ay. 19). Musa menginginkan Tuhan sendiri dan bukan berkat-berkat-Nya. Seberapa rindukah kita dengan diri Tuhan? Seberapa inginkah kita melihat bahwa pada akhir dari seluruh hal yang kita kerjakan, kemuliaan Tuhan dinyatakan? Kiranya Tuhan memberikan belas kasihan-Nya terlebih dahulu kepada kita. (AMM)