Khawatir

Christian Life

Khawatir

11 July 2022

Adakah di antara kita yang sama sekali tidak pernah khawatir dalam hidup ini? Saya yakin, tidak ada. Sebagai manusia yang diciptakan terbatas dalam ruang dan waktu dan sebagai manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa dengan pikiran, perasaan, dan kehendak yang sudah tercemar dosa, maka pasti keterbatasan pikiran dan yang sudah tercemar ini yang mempengaruhi pikiran kita sehingga membuat kita salah dalam berpikir dan berharap. Itu sebabnya kekhawatiran itu timbul.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, khawatir berarti takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti. Kita khawatir atas sesuatu kejadian di depan kita yang kita belum tahu seperti apa nanti kejadiannya. Bila yang kita pikirkan itu adalah kejadiannya bakal membuat kita sedih, mengecewakan kita, maka khawatir kita sedemikian rupa, seolah-olah kita ingin men-setting-nya agar kejadian itu tidak terjadi.
Wajarkah di dalam hidup ini kita khawatir? Apakah yang Alkitab katakan tentang khawatir? Di dalam Matius 6:25-34 Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita tidak perlu khawatir akan hidup kita, karena Bapa di sorga tahu kebutuhan kita.  Jikalau Bapa di sorga sanggup memenuhi kebutuhan bunga di padang, burung-burung di udara, Dia tentu sanggup dan pasti menolong manusia yang adalah ciptaanNya menurut gambar dan rupa Dia, dan yang terpenting adalah umat tebusanNya. Yang menjadi masalah adalah seringkali kekhawatarin kita lebih fokus kepada kekhawatiran itu sendiri, bukan kepada apa yang menjadi bagian kita yang harus kita kerjakan. Tuhan Yesus berkata: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahnnya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat 6:33-34).
Hari ini apa yang kita khawatirkan? Marilah kita memfokuskan diri kita terhadap hal yang harus kita kerjakan sesuai dengan kehendak Tuhan. Serahkanlah segala kekhawatiran kita kepada Tuhan, percayalah Allah tidak pernah meninggalkan umatNya yang bersandar kepadaNya dan hidup bagiNya.
“Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6).