Kontrol Emosi = Mematikan Emosi?

Devotion

Kontrol Emosi = Mematikan Emosi?

13 May 2024

Bacaan: Filipi 2:5

Pernahkah kita mengalami kejadian di mana kita dapat mengontrol emosi kita? Di saat biasanya orang lain akan marah atau sedih, kita tidak berkutik dan tidak berekspresi seperti orang pada umumnya? Atau mungkin kita mempunyai teman yang menurut kita tidak mempunyai ekspresi? Mungkin kita menilai ekspresinya datar atau membosankan.

Apa itu emosi? Menurut KBBI, “Emosi” adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat, dan merupakan reaksi psikologis dan fisiologis. Emosi siapa yang akan hendak kita luapkan? Apakah kita sebagai manusia berhak untuk meluapkan emosi kita sebebas-bebasnya? Tentu dengan jawaban dunia, ini menjadi hal yang tidak perlu dipertanyakan. Menurut cara dunia, emosi kita adalah salah satu bentuk kita mengekspresikan siapa diri kita. Tetapi sebagai orang Kristen, bagaimanakah kita mempertanggungjawabkan emosi kita di hadapan Tuhan?

Dalam Filipi 2:5 dituliskan bahwa dalam hidup hendaklah kita bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Kenapa kita harus bersama-sama menaruh pikiran dan perasaan kita yang terdapat di dalam Kristus Yesus? Karena Yesus Kristus yang adalah Allah telah datang merendahkan diri-Nya, menjadi hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sampai mati pun, Yesus Kristus taat. Maka dari itu Allah Bapa meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. Yesus Kristus menjadi teladan hidup kita karena Ia adalah Juruselamat yang menggantikan kita membayar upah dosa kita dan menghidupi kehidupan yang sempurna sebagai manusia, sehingga kita bisa percaya, bergantung kepada-Nya, dan meneladani kehidupan-Nya.

Kita sebagai ciptaan Tuhan, dan adalah gambar dan rupa Allah seharusnya memancarkan kemuliaan Allah di dalam semua hal yang kita lakukan. Emosi kita tanpa terkecuali. Ada saat di mana kita harus marah, ada saat di mana kita harus sedih, ada saat di mana kita harus senang, dan lainnya. Semua hal ada tempatnya sesuai dengan kehendak Allah. Emosi tidak kita gunakan untuk meninggikan diri, memenangkan empati, menonjolkan diri, mencari perhatian yang akhirnya semua intensi kita beremosi adalah untuk menunjukkan diri kita siapa. Siapa yang ingin kita pancarkan di saat kita beremosi?

Di dalam keseharian kita menghadapi keluarga, teman, atau rekan kerja, apakah emosi kita sebagai orang Kristen sudah bersama, sepikiran, dan seperasaan dengan Yesus Kristus? Sehingga dari emosi kita pun, kebesaran dan kemuliaan Allah dapat dipancarkan. (NC)