Lebih dari Pemenang

Christian Life

Lebih dari Pemenang

25 September 2017

Sebuah lagu rohani “Lebih dari Pemenang” mungkin tidak asing di telinga kita, bahkan kita dapat menyanyikannya dengan penuh semangat. Selain menjadi judul lagu, kata-kata itu sering kali menjadi slogan, yel-yel, maupun prinsip dalam hidup kita. Sekarang mari kita renungkan sejenak, benarkah kita lebih dari pemenang. Jika kita lebih dari pemenang, kita lebih dalam hal apa?

Berbicara mengenai pemenang, tentu tidak lepas dari keberhasilan yang dicapai seseorang dalam sebuah pertandingan atau kompetisi. Di mana keberhasilan tersebut diperoleh dengan cara mengalahkan, menaklukkan pesaing, kompetitor, ataupun lawan-lawan yang dihadapi dengan hasil yang lebih baik. Untuk mencapai hasil tersebut diperlukan sebuah latihan, usaha, kerja keras, bahkan perjuangan yang sulit dan panjang. Selain itu, tentu ada standar, kriteria, kualitas yang harus dipenuhi untuk menjadikan seseorang sebagai pemenang. Maka ketika kita mengatakan kita lebih dari pemenang, kita bukan hanya semata-mata berbicara mengenai hasil ataupun prestasi yang berhasil dicapai, melainkan juga standar, kriteria, kualitas, yang melebihi apa yang telah diraih oleh seorang pemenang.

Sebagai orang Kristen, mungkin kita sering berpikir bahwa Tuhan selalu menyertai kita dan bahwa iblis dengan segala kuasanya pun telah ditaklukkan. Dengan demikian, tidak ada lagi hal yang perlu kita takutkan dan tidak ada satu pun perkara, persoalan, ataupun masalah yang tidak dapat diselesaikan. Kita akan tertegun ketika penyelesaian atas masalah yang dihadapi terjadi dengan cara-cara yang tidak terbayangkan oleh kita. Hal ini tentunya membuat kita meyakini bahwa kita lebih dari pemenang dalam segala perkara, karena Allah beserta kita dan di pihak kita.

Memang benar ketika Allah berada di pihak kita, maka tidak ada satu pun orang yang dapat bertahan melawan kita. Alkitab banyak menceritakan kisah-kisah tersebut, seperti kisah Daud mengalahkan Goliat, kisah runtuhnya tembok Yerikho, dan kisah-kisah lainnya. Tetapi seperti yang telah disebutkan di atas, berbicara mengenai pemenang bukan hanya sekadar berbicara mengenai hasil, tetapi ada standar, kriteria, kualitas yang harus dicapai.

Ada satu hal yang harus kita akui dan hal ini telah menjadi sebuah ironi. Setiap daripada kita mungkin ingin menjadi seorang pemenang, tetapi kita justru tidak memiliki standar, kualitas, kapasitas, dan hidup sebagai seorang pemenang. Mungkin kita ingin menjadi orang yang melebihi pemenang supaya sanggup menunjukkan pada dunia betapa hebat, dahsyat, dan kudusnya Tuhan kita, bahwa Ia adalah Raja di atas segala raja, dan sebagainya. Namun yang terjadi adalah dunia menertawakan kita, karena dunia melihat hidup yang kita jalani tidak berbeda dengannya.

Mengapa hal demikian bisa terjadi? Pertama, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, seluruh gambar rupa Allah yang ada dalam dirinya telah rusak secara total. Artinya kerusakan itu memiliki cakupan yang luas dan merusak setiap aspek kehidupan serta kejiwaan manusia, sehingga dirinya tidak dapat melakukan satu pun hal yang baik.1 Kedua, kita mengatakan bahwa kita telah ditebus dan telah menjadi ciptaan baru, akan tetapi kita masih terus menghidupi keberdosaan kita. Kita masih menjalani hidup kita dengan cara pandang dunia dan bukan berdasarkan kebenaran firman Tuhan. Hal ini mungkin sulit untuk diterima, tetapi inilah kenyataan yang harus kita terima dan akui, bahwa kita bukan pemenang, apalagi lebih dari pemenang.

Sekarang, marilah kita sekali lagi merenungkan kembali, benarkah kita adalah orang-orang yang lebih dari pemenang atau sebaliknya kita tidak lebih dari pemenang. Jika kita mengakui bahwa kita lebih dari pemenang, sudahkah kita hidup melebihi seorang pemenang dengan menjalankan setiap kebenaran firman Tuhan yang telah diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya? Jika kita mendapati diri kita tidak lebih dari seorang pemenang, dan jika kita menyadari segala kelemahan, keberdosaan yang masih kita hidupi, marilah kita dengan rendah hati datang kepada Tuhan meminta pengampunan. Mohon belas kasih-Nya membimbing kita menjalankan kebenaran yang telah Ia berikan kepada kita. Kiranya kita diberikan kekuatan dan semangat berjuang semakin bertumbuh bagi kemuliaan Tuhan. (S)

Referensi: Edwin H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme (Penerbit  Momentum)