Lemah

Christian Life

Lemah

12 March 2018

Beberapa waktu belakangan ini saya mulai tersadar bahwa sebetulnya manusia itu begitu lemah, layaknya gelembung sabun yang terbang terbawa angin dan sewaktu-waktu bisa sirna. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Misalnya, kecelakaan berkendara yang dapat melumpuhkan kita; Alzheimer yang menyebabkan hilangnya kesadaran dan ingatan secara perlahan; ataupun bencana lainnya yang tidak akan habis jika disebutkan.

Sayangnya kita tidak dapat mengatakan “tidak” pada hal-hal di atas. Saya kira kita semua seharusnya setuju dengan hal ini. Terutama ketika kita menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri pada saat hal-hal tersebut dialami oleh kerabat terdekat kita. Pedih yang mendalam timbul di hati kita saat kita menyadari bahwa kita tidak dapat menolong mereka.

Selain tubuh kita yang lemah secara fisik, tubuh ini juga lemah dalam menjalankan hukum Tuhan, atau kita sebut saja dengan “kebaikan”. Mungkin banyak orang yang tidak setuju dengan kelemahan tubuh yang satu ini, sebab kita sering kali merasa mampu untuk berbuat baik. Benarkah kita mampu berbuat baik di hadapan Tuhan Sang Pemilik Hukum itu sendiri?

  1. Dalam Kitab Yesaya dikatakan bahwa segala “kesalehan” yang kita coba lakukan hanyalah seperti kain kotor (Yes. 64:6).
  2. Paulus mengatakan dalam surat Roma: “sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik” (Rm. 7:18).

Sangat disayangkan jikalau kita tidak menyadari bahwa pekerjaan baik yang kita coba kerjakan di hadapan Sang Pencipta adalah “sia-sia”. Seperti kain kotor yang dipakai untuk membersihkan sesuatu, yang mana hal itu hanya akan membuat sesuatu menjadi semakin kotor jika dilakukan. Mengapa begitu? Karena kita adalah manusia berdosa–terima atau tidak terima–sebenarnya kita tidak memiliki sedikit pun kehendak untuk berbuat baik. Kehendak kita tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, Sang Pemilik Hukum. Kita berbuat “kebaikan” adalah karena egoisme diri kita sendiri, bukan karena Tuhan dan sesama.

Jika kita membaca keseluruhan isi dari Roma 7, kita akan menemukan betapa mengerikannya ketidakmampuan tubuh ini untuk berbuat “kebaikan”. Bukan hanya fisik, tetapi jiwa kita pun lemah adanya.

Apakah ini berarti bahwa semua manusia tidak bisa hidup berkenan bagi Tuhan?

  1. Bisa, “sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.” (Rm. 8:3a)
  2. Bisa, “sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk. 19:10)

Yesus Kristus, Sang Mesias, Allah Anak–yang datang ke dunia–telah menggenapi hukum Taurat di dalam daging untuk menyelamatkan mereka yang terhilang akibat dosa. Dengan demikian, barang siapa percaya kepada Dia akan menerima Roh Allah yang memampukan mereka untuk menguduskan hidup bagi Allah dan memiliki hidup yang berkenan di hadapan-Nya. (ET)