Lima Menit Lagi

Devotion

Lima Menit Lagi

27 June 2019

Bacaan: Yehezkiel 3:18-19

Pernah ga sih kita pasang alarm di pagi hari dan waktu alarm itu bangunin kita, kita bilang “Lima menit lagi”? Pasti pernah. Justru sering ya kan? Dan akhirnya lima menit itu menjadi 20, 30 menit bahkan sampai berjam-jam, dan akhirnya kita pun terlambat bangun. Terlambat bangun, terlambat masuk kelas, atau terlambat kerja. Seluruh hari kita terpengaruhi karena kita pilih untuk tidur lima menit lagi. Pernah terpikirkankah bahwa di hidup kita pun kita sering berkata “Lima menit lagi”? Mungkin bukan hanya mengatakan lima menit lagi, kita malahan benar-benar mematikan alarm itu dalam hidup kita. Alarm dalam bentuk apa? Alarm dalam bentuk teguran yang ingin membangunkan kita untuk keluar dari dosa.

Saya yakin, setiap kita pernah mengalami teguran yang bagaikan alarm berisik di pagi hari. Ketika kita mendapatkan teguran itu, apa yang kita lakukan? Apakah kita bangun, atau mematikannya? Apakah kita keluar dari dosa, atau berlarut-larut di dalamnya? Kita tahu dalam lubuk hati terdalam alarm itu berguna untuk kita, tetapi keputusan yang sering kita ambil adalah menutup telinga dan melanjutkan apa yang kita ingin lakukan. Namun, beda dengan alarm yang mau tidak mau harus berbunyi membangunkan kita, teguran keras yang bertujuan baik tidak selalu datang. Mungkin sekali, teguran itu akan berbunyi sekali saja seumur hidup kita, dan tidak pernah datang lagi. Jika di saat itu teguran itu tidak kita dengar, maka mungkin sekali kita akan terus-menerus terlarut dalam dosa tanpa sadar sampai akhirnya kita mati dalam kesalahan kita sendiri.

Kira-kira kalau dipikir lebih dalam lagi, kenapa sebenarnya kita tidak mau dengar alarm itu? Coba bayangkan lagi, waktu alarm bunyi dan kita tidak mau bangun, kenapa kita tetap mau tidur? Karena kita senang dengan nyamannya tidur itu. Kita senang dengan keadaan diri kita yang tidak produktif. Kita tidak mau bangun walaupun kita tahu banyak tanggung jawab yang harus kita lakukan, demi kenyamanan diri kita. Sama dengan teguran yang tidak mau kita dengar karena kita tetap mau berada pada keberdosaan diri kita yang “nyaman”. Kita tahu teguran itu benar, dan harus kita taati, tetapi justru kita menghindarinya dengan penuh sadar dan memilih untuk berlarut-larut dalam kenyamanan dosa. Betapa berdosanya diri kita ini sehingga dengan penuh kesadaran kita memlih untuk berdosa. Apa yang harus kita lakukan? Mari bangun dan kembalilah kepada Tuhan! (AES)