Little by Little Faithfully Living Out This God-given Life

Christian Life

Little by Little Faithfully Living Out This God-given Life

18 December 2017

Mengunjungi dan melihat pemandangan alam, seperti Raja Ampat dan berbagai pantai yang indah di Indonesia sungguh menyegarkan jiwa. Kita begitu takjub dan terpesona bukan, ketika kita melihat bintang-bintang yang gemerlapan dan keindahan alam semesta yang ada di sekitar kita? Ya, wajar saja jika kita kagum akan semua itu karena penciptaan dunia ini merupakan sebuah kisah yang sungguh menakjubkan. Terlebih lagi kisah penciptaan manusia: sebuah cerita yang sangat indah, menakjubkan, dan mulia, karena di sinilah kita sungguh melihat kasih Allah yang besar kepada ciptaan-Nya. Kita melihat dalam Kejadian 1:27 bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Sebagai gambar Allah, tidak heran jika di dalam diri manusia terkandung begitu besar potensi yang Allah berikan dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan. Namun, bagaimana kita menghidupi pemberian Allah yang begitu luar biasa ini dalam kehidupan kita sehari-hari?

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Mat. 25:23)

Pertama-tama kita harus sadar dan mengakui dengan rendah hati bahwa Tuhan memberikan kemampuan dan porsi yang berbeda-beda kepada setiap manusia, sama seperti yang dikisahkan dalam perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30)–ada yang diberikan lima talenta, ada yang dua talenta, dan ada yang satu talenta. Namun, apakah itu berarti Tuhan adalah Tuhan yang tidak adil karena ada yang diberi lebih dan ada yang diberi kurang? Tidak, Tuhan adalah Tuhan yang Mahaadil karena Tuhan menuntut pertanggungjawaban sesuai dengan kemampuan kita masing-masing: semakin banyak kita diberi, semakin banyak Tuhan menuntut kita (Luk. 12:48b). Oleh sebab itu, keanekaragaman talenta dan tugas yang dimiliki oleh manusia bukanlah sebuah masalah; yang menjadi keberdosaan sesungguhnya adalah ketika kita tidak rela berjuang untuk mengembangkan potensi yang Tuhan sudah berikan dan merespons anugerah-Nya dalam hidup kita sesuai kedaulatan-Nya.

Tuhan tidak langsung meminta kita untuk menjadi superhero yang dapat melakukan hal-hal yang besar dan revolusioner. Yang Tuhan minta dari kita sebagai pelayan-Nya adalah mengerjakan bagian yang Tuhan percayakan kepada kita dengan rendah hati dan setia. Yang dimaksudkan dengan “bagian kita” adalah perkara-perkara yang Tuhan sekarang berikan kepada kita untuk kita lakukan dan selesaikan, serta anugerah talenta dalam diri kita untuk kita temukan dan kembangkan.

Oleh sebab itu, kehidupan kekristenan yang sejati tidak dimulai ketika kita sudah dapat melakukan perkara yang besar, yang dipandang hebat oleh orang lain. Justru, hidup yang memperkenan hati Tuhan adalah hidup yang kita jalani sekarang; melakukan bagian yang Tuhan sudah percayakan kepada kita, sekecil apa pun, sebesar apa pun, dengan setia serta dengan takut dan gentar mengikuti pimpinan Tuhan setiap saat. Sebagai seorang mahasiswa/pelajar, biarlah kita boleh sungguh-sungguh belajar dengan hati yang ingin mencari kebenaran Tuhan, yang sudah Ia berikan di dalam alam semesta ini. Sebagai seorang pekerja, biarlah kita boleh bekerja dengan penuh kejujuran dan usaha yang keras, seperti bekerja untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Kiranya kita dengan rendah hati berlutut di hadapan Tuhan dan meminta pertolongan-Nya. Kiranya kita boleh menjadi pemuda yang setia mengikuti Tuhan sampai kita menyelesaikan pertandingan kita di dalam dunia ini yang dipercayakan kepada kita, bukan masalah sebesar apa atau sekecil apa atau sejauh mana, namun sesetia dan setuntas apa kita menggenapinya. Berani besar jika dipercayakan besar, berani kecil jika dipercayakan kecil, berani jauh jika dipercayakan jauh! Soli Deo Gloria. (IT)