Living Before the Presence of the Lord

Devotion

Living Before the Presence of the Lord

22 October 2018
"Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia." - Kej. 39:9b-10

Suatu hari saya sedang berjalan bersama teman saya di kompleks perumahan di sebuah kota di Inggris. Saya kemudian melihat sesuatu yang menarik perhatian saya. Sesuatu yang hampir saya tidak pernah jumpai di Indonesia, yaitu hampir semua rumah warga tidak memakai pagar. Kemudian saya bertanya mengenai pengamatan ini kepada teman Inggris saya dan ia berkata, “orang di sini rata-rata masih saling memercayai satu dengan yang lainnya, dan ini semua karena Inggris pernah dipengaruhi oleh Kekristenan dengan kuat”. Setiap individu mempunyai kesadaran bahwa kehidupan mereka dilihat oleh Tuhan dan mereka tidak boleh hidup sembarangan. Oleh sebab itu, mereka tidak mau mencuri dan ini yang membuat orang-orang Inggris saling memercayai satu sama lain. Setidaknya ini yang terjadi 100-200 tahun yang lalu. Meskipun sekarang mayoritas orang Inggris sudah melupakan Tuhan, tetapi Kekristenan masih memengaruhi beberapa aspek dari kebudayaan Inggris, seperti kisah perumahan di atas.

Kesadaran bahwa manusia hidup di hadapan Tuhan inilah yang juga membuat Yusuf untuk tidak mau berzinah dengan istri Potifar. Meskipun dia digoda setiap hari, dia tetap lebih takut terhadap Allah dan lebih mencintai-Nya dibandingkan mengikuti hawa nafsunya sendiri. Selain Yusuf, Tuhan juga pernah membangkitkan beberapa kelompok orang dalam sejarah yang berjuang untuk hidup benar di hadapan Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu contoh adalah kaum Huguenot, orang-orang Protestan Perancis yang merupakan orang-orang Reformed Calvinis. Keahlian kaum Huguenot sebagai pembuat jam, penenun, ahli perak, dan tenaga professional lainnya sangat dihargai oleh negara-negara tetangga. Mereka bahkan dikenal sebagai warga negara yang loyal, bekerja keras, dan produktif secara ekonomi. Oleh sebab itu, ketika kaum ini melarikan diri ke Inggris karena penganiayaan yang hebat di Perancis, negara Perancis mengalami kerugian yang sangat besar dan Inggris mendapat berkat yang begitu melimpah. Sejarawan Inggris bahkan mengakui bahwa kaum Huguenot adalah kaum imigran yang sangat sukses dan berkontribusi besar terhadap kemajuan negara Inggris. Alasan mengapa kaum Huguenot menjadi kaum yang dihormati dan disegani adalah karena mereka sadar bahwa mereka bertanggung jawab penuh terhadap Tuhan setiap saat dalam setiap bidang kehidupan yang mereka jalani. Kesadaran inilah yang mendorong kaum Huguenot untuk memiliki etos kerja yang begitu luar biasa yang berdampak besar pada perkembangan ekonomi dan kebudayaan negara Inggris.

Saya percaya bahwa kesadaran yang dimiliki oleh kaum Huguenot dan Yusuf di atas tidak didapatkan secara sekejap. Kesadaran tersebut adalah kesadaran yang perlu dilatih dengan selalu mendisiplinkan diri dan merenungkan kasih Allah yang begitu besar dalam hidup kita. Kita semua adalah para pendosa yang sebenarnya tidak layak berdiri di hadapan Tuhan. Yusuf sadar betul akan kebaikan dan kesetiaan Allah di dalam hidupnya (Kej. 39:2-3), maka ia dapat berkata, “bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

Bagaimana dengan diri kita yang mengaku bahwa kita adalah pemuda Kristen? Dapatkah kita mengatakan kalimat di bawah ini dalam setiap detil kehidupan kita:
Bagaimana mungkin saya, yang sudah ditebus oleh Kristus, hidup dengan sembarangan dan mendukakan Tuhan saya? Saya harus hidup dengan benar karena saya mengasihi Tuhan dan sadar bahwa saya hidup di hadapan-Nya?

Mari kita memohon kekuatan kepada Tuhan, kiranya kita boleh menjadi pemuda yang setia dalam melakukan pekerjaan-Nya. Kiranya kita selalu sadar bahwa kita sedang berdiri di hadapan Tuhan dalam setiap pilihan hidup yang kita ambil. Kiranya Tuhan membangkitkan suatu kaum yang baru pada zaman ini yang boleh memuliakan nama-Nya, sama seperti kaum Huguenot abad ke-16-18 dulu, yaitu kaum pemuda Reformed Injili. (IT)