Love, Justice, and Forgiveness

Devotion

Love, Justice, and Forgiveness

19 April 2021

Kemarahan manusia biasanya timbul dari kekesalan karena merasa egonya diganggu. Kita sering kali marah karena kenyamanan kita terganggu. Kita bisa juga marah karena merasa diri kita dihina. Kita marah karena apa yang kita inginkan tidak kita dapatkan, dan seterusnya. Bahkan ketika kemarahan kita begitu dahsyatnya, kita bisa mencelakai orang lain atau bahkan membunuh orang lain. Kemarahan di dalam diri manusia berdosa tidak pernah menghasilkan sesuatu yang membangun dan kebaikan bagi orang lain, namun kemarahan (murka) Allah berbeda. Allah murka kepada manusia berdosa karena manusia sudah melanggar kesucian-Nya dan sekaligus Ia murka karena Ia mengasihi manusia.

Murka Allah kepada manusia yang berdosa dilakukan-Nya berdasarkan keadilan-Nya. Karena Allah adil, maka Ia harus menghukum manusia dengan hukuman yang kekal. Tetapi murka Allah tidak berhenti pada murka saja. Allah juga menyediakan jalan pengampunan bagi manusia berdosa. Dengan cara seperti apa? Mari kita merenungkan kebaikan, cinta kasih Allah, dan bahkan Injil Kristus di dalam kemarahan (murka) Allah.

Selama ini mungkin kita jarang mendengar atau memikirkan mengenai Allah yang murka. Kita sering mendengar mengenai Allah yang baik, penuh kasih, dan penyayang. Tetapi, percayalah, kita tidak akan menginginkan Allah yang selalu baik dan tidak pernah marah setiap saat. Bayangkan saja, ada seorang pembunuh yang sedang diperhadapkan di pengadilan. Bagaimana ketika hakim yang menghakimi pembunuh tersebut, melepaskan pembunuh itu hanya dengan berkata, “Tidak apa-apa. Cobalah untuk tidak mengulanginya lagi lain kali ya. Kami mengerti.” Kita pasti marah, karena kita mau keadilan ditegakkan, kita tidak mau hakim yang “baik hati” seperti demikian, bukan? Karena kebaikan tersebut sesungguhnya bukanlah kebaikan. “Allah yang tidak marah atas ketidakadilan dan kejahatan, bukanlah Allah yang pantas untuk disembah,” demikian kutipan dari khotbah Tim Keller di dalam Global Convention 2020.

Maka, dalam jalan pengampunan-Nya, Allah memakai cara dengan menyerahkan Anak tunggal-Nya, untuk mati di atas kayu salib dan menebus orang-orang yang telah mengkhianati-Nya. Pengampunan yang kita terima dari Allah tidak berhenti di pengampunan, tetapi ada tuntutan pertobatan hidup yang harus kita jalankan. Pengampunan diberikan karena kasih dengan menjalankan keadilan yang menuntut kepada pertobatan. Mari kita bersama-sama mengenali dan meneladani Allah kita yang sejati. Memberikan pengampunan karena kasih tetapi juga ada keadilan yang menuntut pertobatan dalam hidup kita sendiri. (TH)