Marah

Christian Life

Marah

15 February 2021

Setiap kita pasti pernah marah. Saat bayi, kita marah dengan menangis sekeras-kerasnya karena perut sudah lapar tetapi kita belum mendapatkan susu. Saat kanak-kanak, kita marah dengan menangis dan “ngambek” ketika keinginan kita tidak disetujui orang tua. Saat pemuda, kita pasti juga pernah marah karena teman kita mengejek kita dengan kata-kata yang tidak kita sukai. Hari ini kita juga pasti pernah marah dengan seribu satu alasan untuk membenarkan kenapa kita marah. Pada umumnya kita marah karena ego kita terganggu. Tetapi pernahkah kita marah karena nama Tuhan dihina, dipermalukan? Lebih ironis lagi, nama Tuhan sering kali dihina dan dipermalukan bukan oleh orang lain tetapi diri kita sendiri. Kok bisa?

Bukankah di dalam hidup, kita sering melakukan hal-hal yang mempermalukan dan menghina Tuhan? Ketika hidup kita tidak menjalankan firman Tuhan dengan benar, bukankah kita sedang membuat nama Tuhan dihina dan dipermalukan? Namun justru kita tidak merasa marah oleh karenanya. Kita cenderung cuek dan bahkan mengikuti irama pergaulan dan kehidupan dunia agar kita tetap diterima oleh teman-teman kita.

Apakah kita tidak boleh marah? Tuhan Yesus sendiri pernah marah. Namun bila kita perhatikan kehidupan Tuhan Yesus selama di dunia, kita bisa melihat bahwa kemarahan Tuhan Yesus tidak pernah terkait dengan penghinaan terhadap diri-Nya tetapi terhadap kebenaran. Ketika orang berjualan di Bait Allah, Tuhan Yesus marah dengan mengusir orang yang berjual beli dan membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati karena orang-orang tersebut menjadikan Bait Allah sarang penyamun (Mat. 21:12-13). Demikian juga ketika Simon Petrus memberikan saran agar Tuhan Yesus tidak perlu menanggung penderitaan di kayu salib, Tuhan Yesus menegur Simon Petrus dengan keras (Mat. 16:21-23). Dari dua kisah tersebut kita bisa mempelajari bahwa marah itu sendiri tidak salah. Yang menjadi permasalahannya adalah kenapa kita marah. Tuhan Yesus marah tidak di dalam dosa tetapi di dalam kesucian dan bagi kebenaran. Bagaimana dengan kita? Coba ingat, kapan terakhir kalinya kita marah? Mengapa kita marah? Marilah kita memohon ampun kepada Tuhan, dan meminta belas kasihan dari-Nya agar kita bisa memiliki kemarahan yang suci. (DS)