Mati

Christian Life

Mati

1 March 2021

Kata mati sering kali terucapkan dari mulut kita, apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Tetapi kata tersebut sangat tidak kita suka untuk kita alami. Kita bahkan cenderung menghindar dan mencari jalan bagaimana supaya kita tidak mengalaminya. Kematian menjadi suatu hal yang menakutkan bagi manusia berdosa. Tetapi tidak ada satu pun manusia yang sanggup melewatinya atau menaklukkannya. Setiap manusia harus menerima kenyataan bahwa suatu hari nanti dia pasti akan mengalaminya.

Tetapi bagi orang Kristen, kata mati seharusnya bukanlah suatu kata yang menakutkan. Karena kematian yang membinasakan tersebut sudah ditaklukkan oleh darah Kristus di atas kayu salib. “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1Kor. 15:55-58). Begitulah sorakan kemenangan orang Kristen yang sudah menang atas maut di dalam Yesus Kristus. Maka seharusnya sebagai orang Kristen, kita bukan melakukan usaha semaksimal-maksimalnya, sepenuh-penuhnya demi untuk mempertahankan supaya kita tidak mati, karena kematian hanyalah pintu untuk menghantarkan kita menuju pertemuan kita dengan Tuhan kita Yesus Kristus di sorga kekal. Kalau kita mau melakukan semaksimal-maksimalnya, sepenuh-penuhnya, maka seharusnya yang kita lakukan adalah bagaimana menjalankan kehendak Tuhan di dalam hidup kita selama Tuhan masih mengizinkan kita hidup di dunia. Tidak ada yang menjadi sia-sia ketika kita mengerjakan dengan giat pekerjaan Tuhan. Justru kehidupan kita akan sia-sia ketika kita hanya berfokus kepada keinginan dan hidup diri kita sendiri sekalipun semuanya tampak sukses dan dihargai dunia.

Marilah kita kembali kepada kehidupan yang sungguh-sungguh hidup. Bukan untuk menanggapi kematian, tetapi untuk menanggapi kehidupan, dan hidup yang selalu giat di dalam pekerjaan Tuhan. Mari kita bersama bersorak seperti sorakan Rasul Paulus: “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1Kor. 15: 55, 57). (DS)