Mencoba Mengenal Tuhan

Devotion

Mencoba Mengenal Tuhan

25 October 2021

Setiap manusia memiliki kerinduan. Banyak hal yang bisa digambarkan akan kerinduan tertinggi manusia. Ada yang merindukan kedamaian. Ada yang merindukan kesejahteraan. Ada yang merindukan sukacita. Kerinduan ini selalu berbentuk pengharapan yang ingin dicapai oleh setiap insan.

Namun untuk pertanyaan berikutnya, apakah semua kerinduan itu benar? Apakah kerinduan akan kebahagiaan, kesejahteraan, dan sebagainya itu benar? Untuk menjawab pertanyaan semacam ini, bisa ada berbagai jenis tanggapan. Ada yang berkata, “Buat apa peduli benar atau salah? Saya senang, itu cukup. Saya punya uang banyak, itu cukup. Tidak peduli apakah itu benar atau salah.”

Pertanyaan setiap manusia akan kerinduan ini tidak dapat lepas dari siapa yang dikejar dan dipuja oleh manusia itu sendiri. Saat manusia memuja uang, tentu kerinduannya adalah kesejahteraan dan kemakmuran. Saat manusia menyembah dirinya sendiri, ia bisa merindukan segala yang nyaman bagi dirinya. Saat manusia lain berkata, “Tidak, saya tidak menginginkan saya sendiri berbahagia. Saya menginginkan keluarga saya bahagia, orang yang saya kasihi bahagia, karena itulah kebahagiaan saya.” Pfft… Pernyataan seperti itu hanyalah putaran omong kosong yang sebetulnya berpusat pada diri. Sama seperti perkataan Feuerbach dalam kritiknya terhadap agama, “[T]hat we religious folks are, in the end and at the start, concerned only with ourselves.”

Pembuatan berhala ini adalah godaan terbesar setiap manusia. Setiap manusia beragama apa pun tetap dapat tergoda untuk membangun berhalanya. Bahkan bagi umat Kristen, godaan ini bisa tipis sekali bedanya dengan Allah yang sejati. Kita bisa bilang kita sedang menyembah Allah, padahal sebenarnya kita sedang menyembah diri ini. Pemberhalaan semacam ini sudah ada dari zaman ke zaman. Setiap zaman memiliki berhalanya sendiri-sendiri, distorsinya masing-masing, dan bisa mengacaukan bagaimana kita melihat Allah. Maka penting bagi kita untuk mengenal Allah dengan benar. Allah-lah yang sepatutnya menjadi pusat penyembahan kita yang paling tinggi, karena untuk itulah kita ada. Untuk itulah kita diciptakan.

Saat segala media, entertainment, wisata, teknologi menyediakan segala hal yang menyenangkan hati manusia dan menyediakan segala hal yang mau manusia dengar, bahkan agama sekalipun bisa menjadi salah satunya. Kebahayaan dalam hal itu adalah saat kita mengisi diri kita dengan sesuatu yang fana, yang sebetulnya tidak memuaskan, dan pada akhirnya kita putus asa. Kita menciptakan relasi kita dengan Tuhan tanpa menyadari kita sedang tersesat. Maka saat kita sadar akan hal ini, kita akan yakin bahwa mengenal Allah menjadi lebih penting dari apa pun. Miserere Nobis. (TH)