Mengapa Harus Bersukacita?

Christian Life

Mengapa Harus Bersukacita?

26 October 2020

Pada umumnya, ketika kita mengalami kesusahan, penderitaan, kesedihan, permasalahan menggunung, kita sulit bersukacita. Bahkan kita tidak menemukan alasan untuk bisa bersukacita. Bagaimana bisa bersukacita, jikalau kita sedang mengalami kerumitan hidup? Apalagi jika kita melihat orang lain hidupnya bahagia, sangat jauh dari penderitaan seperti yang kita alami. Dengan gampangnya kita akan mengeluarkan keluhan, “Mengapa saya, Tuhan? Mengapa bukan yang lain saja?”

Adakah orang bisa bersukacita di dalam penderitaannya? Ada. Rasul Paulus salah satu contohnya. Di dalam perjalanan hidup Rasul Paulus, setelah dia bertobat dan mengikuti Kristus sepenuhnya, dia justru mengalami kesusahan dan penderitaan lebih berat dibandingkan sebelum dia bertobat. Bayangkan saja, dipenjarakan beberapa kali, dipukul, diseret, hingga nyaris mati karena pemberitaan Injil, adakah alasan bagi Rasul Paulus untuk tetap bersukacita?

Di dalam Filipi 4:4-7 dituliskan, bahwa ternyata Paulus tetap bersukacita, bahkan dia meneguhkan hati jemaat Filipi untuk tetap bersukacita. Bukan hanya tetap bersukacita, tetapi tetap bisa memunculkan kebaikan yang berguna bagi orang lain. Apakah perasaan Paulus kebal dari penderitaan sehingga dia dengan gampangnya bisa bersukacita? Ternyata Paulus juga pernah mengalami pergumulan yang berat di dalam hidupnya sehingga dia berkata, “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.  Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2Kor. 12:7-9).

Apakah yang menjadi dasar membuat Paulus tetap bisa bersukacita di tengah penderitaannya? Jawabannya adalah pengenalannya akan Allah yang begitu dekat. Ia tidak pernah melihat dan mencurigai bahwa Allah hendak membuatnya menderita. Di dalam penderitaannya dia tetap bisa melihat kebaikan dan kemurahan Allah. Bahkan penderitaan yang ia alami karena Kristus, dilihatnya sebagai anugerah (Flp. 1:29), artinya tidak semua orang mendapatkan kesempatan menderita bagi Kristus. Penyerahan diri yang total kepada Allah dan percaya sepenuhnya bahwa Allah yang baik tidak pernah salah memimpin, membuat ia memperoleh damai sejahtera yang tidak mungkin diberikan dunia. Damai sejahtera di dalam kondisi apa pun. Damai sejahtera ini yang membuat dia tetap bisa bersukacita.

Beban hidup apakah yang sedang kita alami? Marilah kita datang pada-Nya, Sang Raja Damai, Sumber segala Kebaikan. Kiranya kita tidak membiarkan masalah hidup dunia berdosa ini merampas sukacita hidup kita di dalam Kristus. [DS]