Mengapa Harus Terpaksa?

Devotion

Mengapa Harus Terpaksa?

14 June 2021

Bacaan: Mazmur 100:2

Kegembiraan adalah tanda bahwa pelayanan kita diterima. Mereka yang melayani Allah dengan wajah sedih karena melakukan apa yang sebenarnya tidak disukai, tidak melayani Allah sama sekali; mereka membawa semacam bentuk kesetiaan, tetapi tidak ada hidup di dalamnya. Allah kita tidak memerlukan seorang budak untuk menganugerahi-Nya sebuah takhta. Ia adalah Penguasa Kerajaan Kasih dan ingin para hamba-Nya mengenakan seragam sukacita. Para malaikat-Nya melayani dengan pujian, bukan dengan erangan. Gumaman atau desahan akan menjadi sebuah pemberontakan dalam barisan mereka.

Ketaatan yang tidak bersifat sukarela bukanlah ketaatan. Allah melihat ke dalam hati, dan jika Ia melihat bahwa kita melayani Dia dengan terpaksa, bukan karena kita mengasihi-Nya, Ia akan menolak pelayanan kita. Pelayanan yang sungguh keluar dari dalam hati adalah pelayanan plus keceriaan. Ketika kita menghilangkan kesediaan orang Kristen yang penuh sukacita, kita telah menggagalkan ujian ketulusan mereka.

Jika seseorang harus dipaksa terlebih dahulu supaya mau berperang, dia bukanlah seorang patriot; tetapi mereka yang berbaris ke medan pertempuran paling depan dengan mata berbinar dan wajah yang berseri sambil bernyanyi, “Sungguh manis mati bagi negara saya” pastilah seorang patriot sejati.

Keceriaan adalah bala bantuan bagi kekuatan kita dalam melayani; dalam sukacita ilahilah kita menjadi kuat. Kegembiraan bertindak sebagai penawar bagi kesulitan, bagaikan pelumas bagi sebuah roda. Tanpa minyak, poros akan menjadi panas, dan kecelakaan akan segera terjadi. Jika tidak ada sukacita ilahi untuk melumasi roda pelayanan kita, jiwa kita akan tersumbat oleh kelelahan. Sukacita adalah elemen yang membuat para pelayan-Nya dapat bernyanyi:
Buatlah aku berjalan sesuai dengan perintah-Mu,
Itulah jalan yang menyenangkan.

Marilah kita membawa pulang pertanyaan ini: Apakah kita melayani Allah dengan sukacita? Marilah kita tunjukkan kepada dunia, yang menganggap agama kita adalah sebuah perbudakan, bahwa perbudakan itu adalah kesenangan, kegembiraan, dan ketenangan! Biarlah sukacita kita menyatakan bahwa kita sedang melayani Tuan yang Baik, yang berkata kepada para hamba-Nya, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat. 11:29-30). (MR)