Mengapa Tuhan

Devotion

Mengapa Tuhan

4 June 2018

Bacaan: Yesaya 53:1-12

Kita sering kali mengalami berbagai penderitaan dalam hidup kita. Penderitaan karena perpisahan dengan orang yang kita kasihi, penderitaan akan sakit penyakit, penderitaan karena dikhianati, penderitaan karena beban ekonomi, penderitaan karena semua berjalan tidak sesuai dengan keinginan atau rencana kita, dan banyak penderitaan yang lainnya. Ketika mengalami penderitaan sesekali mungkin kita masih bisa bertahan, tetapi penderitaan yang terus beruntun sering kali membuat kita berpaling kepada Tuhan dan bertanya “Mengapa Tuhan?”

Kita tidak pernah mempertanyakan Tuhan dalam kelancaran tapi kita pasti bertanya dalam penderitaan hidup kita. Kita ingin tahu mengapa penderitaan terjadi dalam hidup kita, tetapi ketika kelancaran dan berkat yang kita alami, kita tidak pernah mempertanyakannya. Kita merasa sudah selayaknya Tuhan memberkati saya karena saya adalah anak Tuhan yang baik. Saya rajin ke gereja, melayani, dan memberikan perpuluhan, juga persembahan. Saya tidak pernah melakukan yang jahat kepada orang lain, saya bahkan sering membantu sesama saya. Saya adalah orang Kristen yang cukup baik, jadi Tuhan sudah seharusnya memberkati saya.

Ketika kita mempertanyakan Tuhan, pernahkah kita memikirkan Tuhan Yesus? Tidak ada seorang pun yang pernah mengalami penderitaan lebih hebat daripada Tuhan Yesus, apa pun penderitaan kita, Dia pernah mengalami yang jauh lebih parah daripada kita. Perpisahan dengan Bapa, pengkhianatan dari orang yang dikasihi, penderitaan baik fisik maupun mental dari orang-orang yang ingin Dia selamatkan (ay. 3). Dan Dia menanggungnya semua demi kita, umat-Nya (ay. 4).

Mungkin saat ini kita sedang mengalami penderitaan yang membuat kita kehilangan harapan kepada Tuhan. Penderitaan yang membuat kita bertanya, “Mengapa Tuhan?” Saat ini terlepas segala situasi yang kita sedang alami, marilah kita sekali lagi melihat Dia yang telah mengalami penderitaan yang paling besar untuk kita. Dia yang tidak berdosa, yang telah mengorbankan diri-Nya supaya kita yang mati bisa kembali hidup. Marilah kita mensyukuri hidup kita yang telah ditebus-Nya dalam setiap kondisi dan terus mengejar apa yang menjadi kehendakNya. (YC)