MINIMALIS

Christian Life

MINIMALIS

9 January 2023

Zaman ini adalah zaman minimalis. Mulai dari perabot rumah tangga, kamar tidur, ruang perkantoran, tampilan gedung, tampilan rumah, tampilan gaya, life style, semuanya serba minimalis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), minimalis adalah berkenaan dengan penggunaan unsur-unsur yang sederhana dan terbatas untuk mendapatkan efek atau kesan yang terbaik. Selain itu, minimalis juga mengandung arti segala sesuatu yang identik dengan kesederhanaan, fungsional, dan tertata rapi, serta erat dengan kemajuan teknologi.
Sayangnya semangat minimalis ini tanpa sadar terbawa masuk dalam kehidupan kerohanian kita. Kita memakai semangat minimalis untuk meresponi Allah. Semangat hidup buat Tuhan, semangat mencintai Tuhan, semangat menjalankan Firman Tuhan, semuanya kita lakukan secara minimalis. Kalau bisa berdoa 5 menit, kenapa harus sejam? Kalau bisa mendapatkan ibadah dengan khotbah cukup 15 menit, kenapa harus ke tempat ibadah yang lama khotbahnya sejam? Kalau kita masih bisa mengambil waktu untuk hidup sendiri, kenapa harus seluruhnnya diserahkan bagi Tuhan? Semuanya serba minimalis dalam meresponi diri di hadapan Tuhan. Malah kita justru menganggap orang yang hidupnya sepenuhnya menjalankan Firman Tuhan, kita anggap lebay. Kita tidak lagi memaksimalkan hidup kita untuk Tuhan. Namun di sisi lain, kita menuntut Tuhan memberikan yang maksimal sesuai dengan apa yang kita mau. Kita ingin mendapatkan pasangan yang terbaik, pekerjaan yang terbaik, gaji yang terbaik, sekolah yang terbaik, masa depan yang terbaik, dan lain-lain. Kita cenderung sulit melihat kenyataan ketika apa yang kita inginkan, yang menurut kita yang terbaik itu, tidak kita dapatkan. Kita kemudian menyalahi Tuhan, dan mempertanyakan Tuhan, di manakah kasih-Nya. Tetapi kita hampir tidak pernah mempertanyakan diri kita, mengapa kita hanya ingin memberikan minimalis kepada Tuhan tetapi menuntut maksimal dari Tuhan?
Allah memberikan kasih-Nya yang maksimal dengan menyerahkan Anak-Nya mati di atas kayu salib untuk menanggung dosa-dosa kita. Sudahkah kita merasakan kasih-Nya yang maksimal itu? Hanya dengan kita kembali menyerahkan hidup kita kepada kasih-Nya yang maksimal itu, maka kita bisa memberikan yang maksimal kepada Allah. Apakah kita orangnya? (DS)