Nama Allah

Short Article

Nama Allah

8 October 2018

Beberapa waktu lalu saya dikagetkan dengan sebuah pertanyaan, bolehkah kita menggunakan kata “Allah” di dalam memanggil Allah? Usut punya usut, rupanya ada sekelompok orang yang menolak untuk menggunakan kata Allah. Ada dua argumen yang dikemukakan mengenai hal ini. Pertama, kata Allah merupakan nama ilah dari kepercayaan lain, karena itu tidak pantas jika kita menggunakan kata tersebut. Kedua, kata ini berasal dari bahasa Arab dan bukan bahasa Ibrani.

Akibat dari hal tersebut muncullah orang-orang yang menyalahkan terjemahan yang dilakukan oleh pihak LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) dan mengusulkan untuk mengganti kata Allah menjadi kata Elohim. Ada juga yang memutuskan untuk tidak menggunakan kata Allah lagi. Selain itu, muncul juga orang-orang yang mendapati dirinya kebingungan dalam penggunaan kata Allah dan Tuhan.

Tentunya ini bukanlah sebuah hal yang boleh kita anggap sepele, karena hal tersebut bukanlah ajaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu kita akan membahas secara singkat mengenai dua nama Allah. Elohim dan Yahweh di dalam Perjanjian Lama serta Theos dan Kurios di dalam Perjanjian Baru. Dengan demikian diharapkan kita boleh memiliki pengertian yang benar mengenai nama Allah.

El, Elohim, Elyon. “El”, merupakan nama yang paling sederhana dalam Perjanjian Lama yang artinya adalah Allah. Nama ini sangat mungkin berasal dari kata “Ul” yang memiliki pengertian sebagai yang pertama, memiliki prioritas, menjadi tuan serta dapat berarti kuat dan berkuasa. Kata “Elohim” (bentuk tunggalnya adalah “Eloah”), kemungkinan berasal dari kata “alah” yang berarti “dilingkupi ketakutan”. Dengan demikian kita dapat berkata bahwa nama ini berarti Allah adalah Allah yang kuat dan berkuasa atau Allah yang ditakuti. Kata “Elyon” juga diturunkan dari kata “alah” dan nama ini memiliki arti ditinggikan, sehingga kita dapat berkata bahwa Allah adalah Allah yang ditinggikan dan dimuliakan.

Perlu diperhatikan juga bahwa nama ini terkadang dipergunakan untuk menunjuk pada berhala, manusia, dan penguasa. Sebagai salah satu contohnya kita dapat melihat dalam perkataan Yakub kepada Esau di dalam Kejadian 3:10: “Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah (Elohim), dan engkaupun berkenan menyambut aku.”

Yahweh (LAI: TUHAN). Nama ini adalah nama yang dianggap suci oleh orang Israel, sehingga mereka menggantikannya dengan sebutan “Adonai”. Ini adalah nama yang berarti Allah adalah Allah yang berpegang pada janji-janji-Nya. Nama ini adalah benar-benar merupakan nama diri Allah di dalam Perjanjian Lama.

Theos. Nama ini digunakan untuk menggantikan nama Elohim dari Perjanjian Lama. Nama ini sering kali ditemui dengan suatu bentuk kepemilikan seperti “Allahku”, “Allahmu”, “Allah kita”. Di dalam Kristus, Allah adalah Allah dari umat-Nya atau anak-anak-Nya.

Kurios. Nama ini merupakan turunan dari kata “kuros” yang berarti kuasa. Nama ini menunjukkan bahwa Allah sebagai Yang Mahakuasa, Tuhan, Pemilik, Penguasa yang memiliki kekuasaan resmi dan juga berotoritas. Secara umum nama ini meneruskan ide Perjanjian Lama tentang Yahweh, dengan penekanan tambahan pada otoritas Kristus. Dengan ini dapat kita katakan bahwa nama ini mengacu baik kepada Allah maupun Kristus.

Melalui penjelasan di atas, kita dapat simpulkan bahwa tidak ada masalah di dalam menggunakan kata “Allah” untuk memanggil Allah. Selain itu, kita melihat bahwa setiap nama mempunyai arti atau makna dan penggunaan yang berbeda-beda. Oleh karena itu kita perlu sangat berhati-hati di dalam menerima pengajaran yang beredar saat ini. Artikel ini walaupun tidak membahas secara detail dan lengkap mengenai nama Allah, tetapi diharapkan dapat memberikan pengertian yang cukup di dalam mengenal Allah. Sehingga dengan demikian kita boleh semakin hari semakin bertumbuh di dalam pengenalan yang benar akan Allah. (S)

Referensi:

  1. IRECS - Doktrin Allah, Penerbit Momentum.
  2. Louis Berkhof - Teologi Sistematika: Doktrin Allah, Penerbit Momentum.
  3. Herman Bavinck - Dogmatika Reformed, Jilid 2: Allah dan Penciptaan, Penerbit Momentum.
  4. Cornelius Van Til - Pengantar Theologi Sistematik, Penerbit Momentum.