New Year New Me

Devotion

New Year New Me

1 January 2020

Setiap awal tahun, hal yang menjadi tren adalah membuat resolusi tahun baru. Mungkin kita pernah mendengar teman kita berkata, “Tahun ini saya akan memiliki resolusi yang baru. Saya akan memperjuangkan kebenaran di dalam kampus!” atau “Tahun ini saya akan mulai olahraga dan belajar lebih giat lagi.”  Dengan resolusi ini, kita berharap untuk mengubah kebiasaan buruk yang lama dan memulai kehidupan baru yang lebih baik.

Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa melepaskan kebiasaan kita yang lama saja tidaklah cukup, kita juga harus berbuah. Namun pada kenyataannya, sering kali kita tetap tidak menghasilkan buah-buah yang selayaknya kita hasilkan. Kita masih saja gagal menaklukkan diri kepada firman Tuhan, atau gagal menunjukkan Kristus melalui hidup kita. Kita malah menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekeliling kita. Setiap tahun baru, kita berharap akan membuahkan hal-hal yang benar dan memuliakan Tuhan, tetapi pada kenyataannya, hidup kita masih sangat jauh dari standar Tuhan.

Ada dua kemungkinan yang bisa kita renungkan mengenai hal ini. Pertama, kita tidak menghasilkan buah mungkin karena memang kita masih berada di luar Kristus! Yohanes 15:5 mengatakan bahwa barangsiapa tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam dia, ia berbuah banyak. Ketika seseorang menerima Kristus, sudah sewajarnya hidupnya berbuah di dalam Kristus. Seperti orang yang dibangkitkan dari kematian, dia tidak akan lagi tidur-tiduran di dalam peti mati setiap hari. Orang yang sudah bangkit akan memancarkan tanda-tanda kehidupan. Dia akan makan, belajar, dan bekerja–dia akan secara aktif menghasilkan buah kehidupannya. Jika memang tidak ada tanda-tanda kehidupan, mungkin memang hakikatnya orang itu masih mati.

Kedua, kita mungkin sudah ada di dalam Kristus, tetapi kita tidak memiliki kekonsistenan dan kontinuitas di dalam berjuang menghasilkan buah. Contohnya seperti ini, jika kita butuh 1.000 liter oksigen untuk hidup sehari, bisakah kita pada hari ini menghirup 2.000 liter oksigen lalu besok sama sekali tidak menghirup oksigen?  Tidak mungkin, kan? Kita harus konsisten dan kontinu menghirup oksigen jika kita tidak mau mati. Tetapi, hal seperti inilah yang sering kita lakukan. Saat pertama kali kita percaya kepada Tuhan atau pada saat-saat tertentu, kita seperti memiliki api semangat yang berkobar-kobar untuk melayani Tuhan. Seolah kita siap dan rela pergi ke pelosok dunia mana pun untuk memberitakan Injil Kristus. Hari demi hari pun berlalu dan kita makin merasa biasa saja. Api kita mulai padam dan kita mulai gagal dalam mempertahankan kekonsistenan dan kontinuitas di dalam menghasilkan buah di hadapan Tuhan.

Begini pula nasib resolusi tahun baru kita. Di awal, kita bisa begitu semangat dan yakin akan menggenapkan seluruh resolusi kita seperti membaca Alkitab dan berdoa setiap hari. Tetapi, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kesibukan kuliah/kerja, kita pikir, “Tidak apa-apalah, skip hari ini saja. Utang baca Alkitab hari ini akan saya bayar besok.” Begitu seterusnya, sampai akhirnya semua menumpuk di belakang dan kita sudah tidak bisa membayar utang kita. Akuilah, kegagalan ini kita ulangi setiap tahunnya.

Maka, kita harus sadar bahwa kita sebenarnya tidak mampu menggenapkan komitmen kita kepada Tuhan dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Hanya ada satu manusia yang sungguh-sungguh berhasil menggenapkan kehendak Bapa di dalam hidup-Nya, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Marilah kita memandang kepada Kristus, yang akan menuntun dan menguatkan kita untuk hidup berbuah bagi Tuhan. Pada akhirnya, ini bukan tentang SAYA menggenapkan resolusi tahun baru yang SAYA buat sendiri, tetapi tentang bagaimana kita menyerahkan diri kita kepada KRISTUS yang akan menggenapkan “resolusi” yang Dia sudah rencanakan di dalam hidup kita masing-masing. Selamat Tahun Baru! (HS)