Old & New

Christian Life

Old & New

2 January 2020

Salah satu acara yang sering kali diadakan oleh persekutuan-persekutuan Kristen menjelang tahun baru adalah acara “Old & New”. Di dalam kegiatan ini biasanya ada momen mengelilingi api unggun bersama-sama. Lalu, masing-masing orang menuliskan janji ataupun resolusi tahun baru di atas secarik kertas. Ada yang berjanji untuk meninggalkan dosa-dosanya, ada pula yang berkomitmen untuk tekun di dalam pelayanan. Selanjutnya, kertas tersebut nantinya dilempar ke api unggun, sambil berdoa bahwa janji tersebut bisa sungguh-sungguh terealisasikan di kehidupan kita. Tetapi sungguh ironis, ini semua hanya formalitas belaka untuk memeriahkan tahun baru dengan cara yang seolah-olah terlihat “rohani”. Harus diakui janji tersebut sulit untuk kita hidupi. Paling lama hanya bertahan kurang dari beberapa minggu saja. Ini menandakan bahwa sebenarnya kita enggan untuk meninggalkan dosa-dosa yang lama. Kita tidak sungguh-sungguh mengharapkan kehidupan yang baru di dalam Kristus. Kita tidak serius merindukan pertumbuhan kerohanian kita.

Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. (Luk. 2:40)

Menarik bagaimana Lukas menuliskan tentang pertumbuhan Yesus Kristus ketika Ia hadir sebagai manusia di dunia. Yesus tidak hanya bertumbuh secara fisik saja, tetapi juga hikmat dan kasih karunia dari Allah terus berkembang. Lukas bahkan menuliskan hal ini untuk kedua kalinya di ayat 52 setelah Tuhan Yesus berada di Bait Allah selama 3 hari. Dua kali menuliskan tema yang sama, tentu Lukas ingin memberi penekanan tentang kehidupan Tuhan Yesus di dunia. Kehidupan Yesus di dunia–mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, hingga dewasa–menjadi contoh bagaimana seharusnya manusia terus bertumbuh dalam hikmat dan kasih karunia Allah.

Bandingkan dengan kehidupan kita saat ini yang mengaku sebagai orang “Kristen”, tetapi sama sekali tidak ada keseriusan untuk bertumbuh dan berbuah. Setiap tahun baru kita selalu mengulang komitmen dan doa supaya bisa menjadi orang Kristen yang lebih baik lagi. Tetapi apakah kita sungguh-sungguh menggumulkan hal itu? Apakah kita menetapkan strategi dan langkah-langkah agar janji kita di hadapan Tuhan dapat terlaksana? Pada faktanya kita tidak melakukan itu semua, justru kita hanya terlena euforia tahun baru dan hanya ikut-ikutan orang lain yang suka mengumbar resolusi. Kita hanya mengulang kesalahan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kita perlu menyusun langkah konkret di dalam berusaha menggenapi janji yang sudah kita buat di awal tahun ini. Kita juga harus ingat bahwa kemampuan untuk melaksanakan janji-janji kita sebenarnya datang dari Roh Kudus.

Maka, pertama-tama, mari kita jujur di hadapan Tuhan, adakah kita sungguh-sungguh serius saat menuliskan resolusi untuk mau lebih lagi mencintai dan melaksanakan kehendak Tuhan? Kedua, mari kita bersandar penuh kepada Allah yang akan memampukan kita dan menyertai kita di dalam menjalankan kehendak-Nya. Mari kita tidak menganggap remeh janji yang sudah kita buat di hadapan Tuhan. Kita harus melunasinya karena Allah kita bukanlah Allah yang bisa dipermainkan dengan janji palsu kita. Dia masih memberikan kita kesempatan untuk memasuki tahun yang baru, supaya kita bisa sekali lagi memperbarui komitmen kita untuk mengasihi Dia dengan kesungguhan hati. Semoga Tuhan menjaga kesungguhan hati kita dari awal sampai akhir tahun nanti, bahkan akhir hidup kita. Amin. (TP)