Orang Benar dan Orang Fasik

Devotion

Orang Benar dan Orang Fasik

14 September 2020

Bacaan: Mazmur 73

Mazmur ini dikategorikan sebagai mazmur hikmat, tetapi jika kita baca keseluruhan isi, kita bisa melihat pemazmur sedang mencurahkan pergumulannya kepada Allah. Pada masa itu, Asaf adalah pemimpin pujian dari suku Lewi, bani Gersom, yang artinya dia memiliki kerohanian yang cukup sehingga dipantaskan untuk menjadi pemimpin pujian. Dengan latar belakang demikian, Mazmur 73 ini mengambarkan isi hati dan pergumulan seseorang yang dekat dengan Tuhan.

Di dalam Mazmur, kita mengenal dua macam kelompok orang. Pertama, orang-orang benar, yaitu orang-orang yang dekat dengan Tuhan, yang dibenarkan oleh Tuhan, bukan karena perbuatan baiknya. Kedua, orang-orang fasik, mereka adalah orang-orang beragama, tetapi hidupnya bukan berasal dari kebenaran Tuhan. Mazmur 73 ini menggambarkan kehidupan yang kontras antara keduanya.

Pemazmur mengawali dengan pujian kepada Allah. Ia menggambarkan Allah yang baik kepada orang tulus dan bersih hatinya. Yang dimaksudkan adalah seseorang yang mengasihi Allah dengan sepenuh hati seperti pada Ulangan 6:5, atau dalam Mazmur yang disebut sebagai orang-orang benar. Pemazmur mengakui kebaikan Allah terhadap orang-orang benar, tetapi Asaf kemudian melihat orang-orang yang hidup di dalam nikmat dan kemakmuran justru adalah orang-orang fasik. Orang fasik dalam ayat ke 4-5 hidup tanpa beban, tanpa kesakitan, dan bahkan mereka gemuk seolah-olah seperti hewan-hewan gemuk yang dipelihara dengan baik, karena diberi makan dengan limpah. Dalam hidup mereka yang begitu nyaman, seperti semua terpenuhi, membuat mereka akhirnya berkalungkan kecongkakan (ay. 6). Sama seperti jika kita menjadi yang terbaik dalam kelompok kita, misalnya kita mendapat nilai tertinggi dalam kelas kita. Akan ada kebanggaan diri sehingga kita merasa lebih mulia dibanding orang lain. Kita akan merasa yang paling pandai di antara teman-teman kita. Maka orang-orang fasik di sini, di dalam kenyamanan dan kemakmuran hidup yang dinikmati menjadikan mereka sombong dan tingginya kesombongan itu digambarkan dalam ayat 11 yaitu sampai mereka menantang Tuhan. Merasa seolah-olah tanpa keberadaan Tuhan pun mereka bisa hidup dengan damai dan nikmat di dunia.

Tetapi mirisnya, dengan keadaan orang-orang fasik yang serba nyaman ini menjadikan banyak orang mengingini kehidupan demikian sehingga mengikuti mereka (ay. 10). Dunia menawarkan kenikmatan, dan kenikmatan ini pasti akan dilirik oleh kita, karena kita adalah manusia berdosa. Mungkin banyak dari kita yang sering menggumulkan hal yang sama dengan pemazmur. Mungkin kita pernah mempertanyakan mengapa kita begitu disibukkan dengan pelayanan gerejawi sedangkan orang-orang di luar sana bisa bersenang-senang semaunya mereka.

Melihat itu semua, pemazmur seperti di ambang kebimbangan. Ia merasa hidupnya sia-sia menjadi orang benar, yang setia menjaga hatinya bersih tetapi ia justru mendapat kesulitan dan tulah sepanjang hari. Tetapi kemudian dia melihat hal lain dari semua ini. Mulai dari ayat 16, dia kesulitan menerima semua keadaan tersebut tetapi kemudian di ayat ke 17, ketika sampai puncaknya dia merenungkan semuanya, ia pun akhirnya melihat Allah yang baik, yang sebelumnya digambarkan dalam ayat 1. Allah tidak tinggal diam melihat kemakmuran orang-orang fasik ini, tetapi Tuhan meletakkan mereka di atas tempat yang licin. Mereka akan mudah terpeleset dan hancur seketika (ay. 18-19). Meskipun mereka terlihat begitu menikmati keadaan dirinya, mereka bisa hancur kapan saja. Akhir dari hidup orang-orang fasik bukanlah akhir yang membahagiakan, tidak seperti kebahagiaan duniawi yang sedang mereka nikmati.

Melewati pergumulan ini, pemazmur menyatakan kepahitannya terhadap Allah, tetapi Allah tetap memegang tangan kanannya (ay. 21-24). Pemazmur menyatakan belas kasihan Tuhan yang bukan melepaskan dia sehingga tertarik kepada dunia dan menjauhkannya dari Tuhan, melainkan hidup pemazmur justru dibimbing oleh Tuhan melalui firman-Nya. Firman-Nya menjadi suatu kekuatan bagi dia untuk tetap setia dan dekat kepada Allah, bukan menjadi sama seperti dunia.

Pemazmur juga melihat pengharapan akhir dari orang-orang benar tidaklah sama dengan orang-orang fasik, yaitu Allah akan mengangkatnya ke dalam kemuliaan, seperti dituliskan dalam 2 Timotius 4:18, “Kini aku diangkat oleh-Mu, karena dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, memimpinku melewati jalan-jalan yang sulit, sebagaimana yang telah Engkau lakukan selama ini. Dan, oleh karena aku kini selalu dekat dengan-Mu, Engkau pun mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” Inilah kepuasan yang sesungguhnya. Maka pemazmur mendapatkan jawaban sekaligus pengharapan di dalam pergumulannya. Ia mau dekat dengan Allah, menginginkan Allah saja dalam hidupnya.

Ketika melihat kepada dunia, kita sering kali melihat dunia ini begitu menariknya untuk diikuti sehingga kita merasa menyesal menyia-nyiakan waktu kita untuk melayani Tuhan. Tetapi, melalui mazmur ini, kita perlu kembali melihat kita adalah orang-orang Kristen, pengikut Kristus. Kita sudah ditebus, sudah dibenarkan melalui kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya. Panggilan kita sebagai umat yang ditebus bukanlah menjadi pengikut dunia melainkan berpadanan dengan panggilan kita (Ef. 4:1). Seperti yang dikatakan dalam Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (P)