PCR dan Alkitab

Christian Life

PCR dan Alkitab

21 June 2021

Istilah PCR sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan mungkin kita juga termasuk orang yang sering mengucapkan tiga huruf ini sekalipun tanpa tahu kepanjangan dan seperti apa fungsinya. Di masa pandemi COVID-19 ini, istilah PCR yang biasanya merupakan konsumsi pembicaraan di laboratorium, sekarang menjadi sangat umum dibicarakan oleh orang awam yang tidak ada sentuhannya dengan dunia medis sekalipun.

PCR adalah singkatan dari Polimerase Chain Reaction. PCR diperlukan untuk mendeteksi keberadaan materi genetik yang ada di dalam setiap makhluk hidup, termasuk virus dan bakteri. Oleh karena itu PCR tersebut dapat digunakan untuk pemeriksaan materi genetik virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19.

Untuk mengetahui apakah kita terkena infeksi virus tersebut atau tidak, maka kita melakukan pemeriksaan PCR tersebut. Kita rela hidung kita dicolok, bahkan bisa berkali-kali dalam jangka waktu tertentu oleh karena kita mau memastikan bahwa kita tidak terkena COVID-19; penyakit yang dihebohkan mematikan tersebut. Padahal pemeriksaan dengan cara mengambil sampel cairan di dalam hidung bagian dalam dengan cara swab tersebut sangatlah tidak enak. Tetapi kita rela melakukan itu demi rasa ketenangan bahwa kita terhindar dari penyakit COVID-19 tersebut. Dan apabila hasil PCR dinyatakan positif, maka kita pun dengan rela melakukan isoman selama jangka waktu tertentu, bahkan kita rela terus dicolok hidung kita beberapa kali untuk memastikan hasil PCR-nya negatif. Kalau merasa adanya gejala yang menimbulkan kekhawatiran kita, kita juga rela dirawat di RS. Bahkan kita menyodorkan diri kita sendiri untuk dirawat, padahal tidak ada indikasi yang mengharuskan kita dirawat di RS. Seolah hasil PCR yang menentukan bagaimana kita harus hidup selanjutnya, dan kita rela melakukan semua itu dengan alasan demi keselamatan diri dan orang lain.

Pertanyaannya adalah bagaimana dengan Alkitab yang kita akui bahwa itu adalah firman Allah yang adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita (Mzm. 199:105)? Adakah kita dengan segera menaatinya ketika kita membacanya? Kita juga tahu dan mengamininya kalau Alkitab tidak pernah salah menuntun kita. Hal tersebut tercatat di dalam 2 Timotius 3:16, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

Anggap saja dengan menaati hasil PCR membuat hidup kita terselamatkan dari kematian akibat COVID-19, tetapi bukankah keselamatan tersebut hanya sementara, karena suatu hari nanti kita pasti mati? PCR hanyalah suatu bagian kecil dari kemampuan yang Allah berikan kepada manusia untuk bisa dipakai mendiagnosis suatu kondisi pada manusia. Sedangkan Alkitab adalah firman Allah yang membawa manusia kepada keselamatan kekal seperti yang dikatakan di dalam 2 Timotius 3:16. Pasti kita setuju dengan pernyataan ini bukan?

Jikalau demikian, mari coba kita renungkan, apakah yang menyebabkan kita cenderung lamban dalam menaati firman Tuhan? Apakah yang menyebabkan kita cenderung meragukan akan pemeliharaan Allah yang Ia ungkapkan melalui firman-Nya? (DS)