Pelit vs Hemat

Christian Life

Pelit vs Hemat

12 February 2018

“Pelit (kikir)? Aku tidak pelit ah, itu namanya HEMAT.” Wah sebenarnya kita itu hemat atau pelit? Pelit di mata Tuhan itu salah lho (1Kor. 6:10). Jadi bagaimana dong? Mari kita melihat kepada sepuluh perintah Allah di kitab Keluaran. Pada hukum yang kedelapan, Allah melarang kita untuk mencuri. “Memang koneksinya dengan “mencuri” apa? Aku tidak pernah mencuri, aku berkecukupan, aku juga rajin menabung, maka tidak mungkin aku mencuri.”

Sayang sekali jika kita selalu terpaku dengan yang namanya fenomena. Dalam Lukas 3:14, para prajurit dihimbau untuk tidak memperdaya orang lain (merampas dan memeras). Sebab “memperdayakan sesama kita” dapat dikategorikan sebagai pencurian. Merampas, memakai timbangan yang salah untuk berbuat curang (Ul. 25:13-16), tidak adil dan tidak mengindahkan kebenaran, menerima suap, itu semua termasuk dalam memperdayakan sesama, atau ekstremnya “mencuri”. Selain itu, kita juga sering kali lupa bahwa segala hal yang kita miliki itu adalah milik Tuhan, dan kita hanya “dititipkan”. Maka, ketika kita tidak berbijaksana memakai uang–bahkan waktu serta hidup kita–itu sudah dapat dikatakan “mencuri” dari Tuhan. Ekstrem ya?

Tetapi hukum Allah tidak berhenti dengan kata “jangan” (pasif) saja, melainkan harus ada yang kita lakukan dan kerjakan (aktif), barulah bisa dikatakan kita telah menjalankannya.

"Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan." (Ef. 4:28)

Sebagai pengikut Kristus, selain tidak diperbolehkan lagi mencuri (seperti yang telah dibahas), kita dituntut bahkan untuk bekerja dengan keras, melalukan pekerjaan baik dengan usaha kita, dan membagikan kepada mereka yang berkekurangan (berkebutuhan). Jadi, segala harta, waktu, dan hidup kita, sebenarnya ada bukan ditujukan untuk diri kita sendiri. Tuhan ingin agar kita mengasihi, peduli, dan menjaga kesejahteraan sesama kita, khususnya mereka yang membutuhkan.

Ketika berbicara soal pelit dan hemat, mereka yang pelit hanya berpusat kepada “saya”, “milik saya”. Tetapi mereka yang hemat, sungguh-sungguh sadar bahwa semua kepunyaannya adalah kepunyaan Allah, dan mereka harus mempertanggungjawabkannya di hadapan-Nya. Dengan didorong oleh kasih, “si hemat” selalu berbijaksana dan mempertimbangkan penggunaan uang, waktu, dan hidupnya untuk dapat menjadi berkat bagi sesamanya. Di lain sisi, “si pelit” sering kali–sadar ataupun tidak sadar–mencuri hak milik orang lain dan milik Tuhan (yang seharusnya dapat digunakan untuk menjaga kesejahteraan orang lain dan bukan hanya dirinya sendiri).

Jadi apa kita termasuk kategori “si pelit” ataukah “si hemat”?

"dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu." (1Tes. 4:6) (ET)

Referensi:
Heidelberg Catechism, pertanyaan 110 dan 111.