Pembangunan Kembali

Christian Life

Pembangunan Kembali

7 June 2021

Kitab Nehemia


Kita telah memasuki tahun 2021, apa yang telah Tuhan izinkan terjadi selama satu tahun sebelumnya telah memberikan kita begitu beragam pembelajaran di dalam kita hidup sebagai manusia dan umat Tuhan. Ada yang hidup makin mengenal Tuhan, ada pula yang melihat bahwa kehidupan rohaninya terseok-seok dan dipenuhi kesulitan. Di atas semua yang terjadi, kita patut bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan kita kesempatan untuk hidup satu tahun lagi. Mari kita menyadari bahwa karena kesempatan hidup yang dari Tuhan ini, kita boleh merasakan sukacita hidup diperkenan Tuhan ataupun pahitnya hidup tanpa penyertaan Tuhan. Berkenaan dengan itu mari kita melihat kisah pembangunan kembali Bait Suci dan tembok Yerusalem dalam Kitab Nehemia.

Kitab Nehemia mencatat peristiwa pasca pembuangan ke Babel. Dua hal besar yang Yehuda akan kerjakan ialah membangun kembali Bait Suci dan tembok Yerusalem. Pembangunan ini juga dilihat sebagai sebuah peristiwa di mana mereka membangun kembali kerohanian mereka. Bait Suci menjadi simbol kehadiran Allah dan arah hati mereka saat berdoa, maka ketika mereka bertekad membangun kembali Bait Allah, kita juga dapat melihat ini sebagai suatu komitmen dan kesungguhan mereka mengingat kembali kehadiran Allah di antara mereka. Setelah nenek moyang mereka menyimpang dari perintah Tuhan dan mereka dibuang, kini Tuhan izinkan mereka kembali ke tanah asal mereka dan memperbaiki apa yang telah hancur akibat kesalahan mereka.

Pembangunan tembok Yerusalem berfungsi sebagai pemisah antara mereka dan bangsa lain, juga sebagai pemersatu di dalam Yehuda. Pembangunan tembok Yerusalem seperti yang dicatat dalam Nehemia 4 bukanlah suatu hal yang mudah. Mereka harus menerima ancaman, olokan, dan hinaan dari Sanbalat dan Tobia. Di tengah proses pembangunan tembok Yerusalem yang sebelumnya diremehkan oleh Sanbalat, kini makin nyata bahwa tembok itu akan berdiri. Ketika makin nyata bahwa pembangunan tembok itu pun akan terselesaikan, ancaman untuk memerangi mereka dalam pembangunan pun datang. Ancaman ini datang dari orang-orang Sanbalat, Tobia, Arab, Amon, dan orang Asdod yang juga memiliki kuasa di wilayah itu. Di tengah kondisi yang menghimpit dan dipenuhi ancaman, mereka pun berdoa kepada Tuhan dan mengadakan penjagaan siang dan malam terhadap musuh mereka. Nehemia 4 menuliskan bagaimana rakyat diatur untuk melakukan penjagaan sambil melakukan pembangunan. Demikianlah tembok itu diselesaikan dalam waktu 52 hari. Mereka pun kemudian mengikat perjanjian seperti tertulis dalam Nehemia 10. Mereka berjanji kembali mau hidup taat kepada Allah dan firman-Nya.

Kisah pembangunan tembok Yerusalem memberikan pengajaran kepada kita bahwa hidup orang Kristen harus saling membangun sebagai satu tubuh Kristus dan sekaligus saling menjaga terhadap ancaman godaan dari luar. Kehidupan kita sebagai orang Kristen tidak akan pernah terlepas dari ancaman untuk menjatuhkan iman kita. Karena itu, kita harus saling bahu membahu untuk memelihara iman kita. Serangan dan ancaman Iblis selalu siap sedia menghancurkan kehidupan orang beriman. Ayat 18 menunjukkan bagaimana setiap orang yang ikut membangun, bekerja dengan berikatkan pedang pada pinggangnya, ada pula yang memegang tombak dari merekahnya fajar sampai terbitnya bintang-bintang (ay. 21). Masing-masing menjalankan tugasnya masing-masing sesuai dengan peran yang diberikan kepadanya. Mari kita menyongsong tahun 2021 ini dengan semangat membangun satu Tubuh Kristus sehingga kita menjadi kuat di dalam dan sanggup menghadapi ancaman dari luar. Kiranya Allah menolong kita.

Kutipan Doa Awal Tahun 2019 oleh Pdt. Dr. Stephen Tong mengatakan, “…Oh Tuhan, di tengah padang belantara kehidupan yang besar dan menakutkan ini, kami mengetahui setan tidak diam, meninggalkan kami, dan membiarkan kami berjalan lancar. Kami tahu segala siasat, tipu muslihat, dan semua rencana untuk menjatuhkan kami sudah dipasang di sana-sini, di kanan-kiri, di depan-belakang, di seluruh wilayah di mana kami hidup dan melangkah. Tetapi kami mengetahui rencana Tuhan lebih tinggi dari rencana Iblis, cinta Tuhan lebih daripada sengsara yang boleh kami alami, seperti yang Tuhan sudah janjikan kepada kami. Tuhan, berilah kami ketakutan meninggalkan Tuhan. Berilah kami kegentaran bersalah kepada dan menyedihkan Roh-Mu. Berilah kami kewaspadaan melihat segala kemungkinan yang akan menjatuhkan kami di pinggir, di sekitar kami masing-masing…” (ENS)